Rabu, 23 Mei 2018


Sang Duta FIK  
Memiliki postur yang ideal, tumbuh yang gagah, senyuman yang manis dan juga sangat ramah dengan siapa saja, membuat lelaki tampan asli Semarang ini kini menyandang gelar sebagai Duta FIK 2018-2020. Berawal dari dorongan teman – teman kelasnya untuk mewakili jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi dalam ajang pemilihan Duta FIK 2018-2020 membuat ia memberanikan diri untuk mendaftar sebagai Duta FIK.
Roni Wahyu Sejati, seorang atlet silat yang sudah tak diragukan lagi prestasinya di Jawa Tengah ini, tak pernah menyangka akan terpilih sebagai Duta FIK, ia begitu terkejut ketika namanya di panggil sebagai pemenang  Duta FIK 2018-2020, “saya tidak percaya akan terpilih sebagai Duta FIK, karena sadar saya masih memiliki banyak kekurangan” ujar Roni.
Dimata orang Roni memanglah lelaki yang selalu menjadi dirinya sendiri dan begitu ramah dengan siapapun, bahkan saat karantina Duta FIK ia selalu bergurau dengan semua finalis dan panitia, ia tak pernah menganggap para finalis lain adalah saingan baginya, namun sebaliknya ia mrnganggap finalis lain adalah keluarganya dan ia selalu belajar dari para finalis lain untuk lebih baik.
“Saya sadar kak, saya bukan siapa – siapa dan saya disini belajar banyak dari teman – teman yang lain” kata Roni menjelaskan. Tanpa malu dan gengsi ia memang suka belajar dari temannya. Seperti catwalk, dia sama sekali belum bisa namun dia meminta tolong pada temannya untuk mengajarinya dan alhasil saat Grand Final penampilan catwalk-nya sangat memukau penonton.
Pada saat malam Grand Final terlihat sekali bahwa aura kemenangan sudah ada dalam dirinya, ia terlihat begitu tampan dan gagah menggunakan baskap semarangan saat maju di babak 18 besar dan dibabak enam besar Roni lebih tampan lagi menggunakan wardrobe dari salah satu sponsor yang memang pas dan memukau dikenakannya.
Tak hanya penampilan fisiknya yang membuat semua orang yang hadir saat itu terpukau dengannya, namun cara ia menjawab pertanyaan sangatlah mengagumkan. Salah satu pertanyaan yang ia mampu jawab dengan baik adalah saat tiga besar, pertanyaan itu dari Mr. Billy seorang Sekretaris Duta Wisata Indonesia. Beliau menanyakan apa arti sahabat, Roni pun menjawab dengan tegas sahabat adalah seseorang yang mampu mendukung saya dalam hal positif maupun negatif, namun jangan salah sahabat dapat menuntun kita ke jalan yang baik ketika kita berada di belenggu negatif. Jawaban itu sontak membuat penonton berteriak histeris.
Mengagumkan kata yang akan selalu di ulang – ulang ketika berbicara tentang Roni, karena ia memang layak dan pantas menjadi seorang Duta. Penampilan fisik yang baik dan menarik, public speaking yang luar biasa dan kepandaiannya dalam merangkul seseorang pun tidak diragukan lagi. Kini FIK memiliki seorang Duta yang akan menjadi role model bagi mahasiswa FIK. (MLRA/093)

Sport Jurnalism Menghantui Hari – Hari Anak Olahraga
            Sport Jurnalism mata kuliah yang sangatlah asing ditelinga anak olahraga, di kehidupan hari - hari anak olahraga hanyalah bergelut pada keringat, panas matahari dan bau asam yang tak lain fisik yang di utamakan. Namun di semester enam ini, anak – anak olahraga haruslah menutup rapat – rapat pemikiran yang demikian karena harus selalu membuka laptop dan gadget-nya untuk belajar membaca berita ataupun tulisan – tulisan yang berkaitan dengan jurnalism.
            Sulit dan membosankan bagi kami anak olahraga untuk berperilaku demikian, anak olahraga yang memang terkenal pandai akan kegiatan fisik dan juga mudah mengungkapkan dengan kata – kata verbal kini harus mencoba menggerakan tangannya untuk menulis dan merangkai kata yang seindah mungkin agar layak dibaca di khalayak umum.
            Opini, staight news, reportase, feature, adalah kata – kata yang kini selalu menghantui hari – hari anak olahraga, kami anak olahraga yang awalnya berangkat ke kampus dengan baju polo, celana training dan tas kecil berisi satu buku dan satu pen, kini harus membawa tas besar untuk membawa laptop yang akan digunakan untuk menulis dan mencari berita.
            Di awal mata kuliah ini memanglah sulit dan di benci, namun lama kelamaan sport jurnalism ini membuat anak olahraga asik menulis dan merangkai kata – kata dengan alasan kapan lagi kami anak olahraga yang notabene paham akan olaharaga mengungkapan segala sesuatu yang ada di olahraga, anak – anak jususan bahasa saja yang tidak tahu akan olaharaga bisa menulis tentang olahraga kenapa kami anak olaharag tidak bisa. Begitulah pikiran sempit kami yang mulai menyukai mata kuliah ini.
            Kurang lebih sepuluh pertemuan mata kuliah ini berlangsung, dan sudah banyak hal yang ditulis dalam blog setiap kelompok tentang olahraga, dan memang dari tulisan ke tulisan sangatlah berkembang, yang awalnya hanya mampu menulis empat sampai lima paragraf kini sudah mampu sampai sepuluh paragraf. Tak hanya itu kosa kata yang digunakan pun begitu bervariatif dan menarik.
            Ternyata manfaat dari perkuliahan ini sangatlah banyak, mulai dari membiasakan anak olahraga untuk membaca, menulis, mewawancarai dan juga mengembagkan perbendaharaan kosa kata yang dimiliki. Pengetahuan tentang olahraga pun semakin banyak dan up to date.
            Sport jurnalims yang di ampu oleh dosen yang cantik ini kini menjadi mata kuliah yang di nanti – nantikan oleh anak olahraga tak hanya membatu dalam mendalami cara menulis tapi juga dosen yang cantik dan juga cerdas ini membuat anak – anak olahraga betah untuk belajar bersamanya. Miss Santi namanya, dosen yang kini sedang mengandung anak keduanya itu masih aktif dalam mengajar dan alhasil yang diajarkannya begitu bermanfaat.
Memang disadari atau tidak Sport jurnalims membantu anak olahraga untuk memahami cara menulis yang benar, dan tidak diragukan lagi hal tersebut sangtlah membantu dalam proses pembuatan skripsi nantinya. (MLRA/093)
           
           


Dag Dig Dug Dilema PPL atau TC
            Mahasiswa program study pendidikan baru – baru ini sedang gempar membicarakan Program Pengenalan Lapangan (PPL) dan memang menjadi tranding topic bagi mahasiswa semester enam khususnya. Pembicaraan tersebut tak luput juga mulai bermunculan di kalangan mahasiswa olahraga prodi pendidikan.
            Sekarang ini menurut peraturan terbaru yang baru saja diketahui oleh mahasiswa, PPL hanya berlangsung selama enam minggu atau berkisar selama 45 hari mulai dari 31 Juli sampai 15 September. Begitu cepat memang jika dirasakan namun menjadi dilema tersendiri bagi mahasiswa olahraga yang mengikuti PorProv.
            Seperti yang kita ketahui bersama, PorProv dilaksanakan di bulan Oktober dan pemusatan latihan atau sering kita dengar TC (training canter) di masing – masing daerah di mulai dilaksanakan  setelah lebaran dan pastinya itu setiap pagi dan sore, secara otomatis akan bertabrakan dengan PPL.
            Ellyana Yuni Pravianti adalah salah satu dari sekian banyak mahasiswa semester enam jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi yang merasa dilema dengan adanya PPL yang bertabrakan dengan TC PorProv “PPL dan TC sama – sama penting, kalau gak PPL nanti nilainya gimana. Kalau gak TC, PorProv sebentar lagi. Hmmm.. deg degan rasanya” ujar Ellyana.
            Selama ini Ellyana menunggu untuk megambil sekolah PPL yang dekat dengan tempat latihannya di Kudus, sehingga selama dia TC dia juga tetap bisa menjalankan kewajibannya untuk PPL. Namun sayangnya PPL di tahun ini tidak ada sekolahan yang dekat dengan tempat Ellyana “Tahun ini gak ada sekolah yang deket buat PPL, kebanyakan di Semarang. Gimana lagi ya aku ya tambah bingung” kata Ellyana memperjelas.
            Yang di takutkan Ellyana adalah ketika dia akan ijin untuk TC namun sekolah yang di pakai untuk PPL nya sulit dalam memberikan ijin. Apa lagi jarak dari Semarang ke Kudus lumayan jauh jika dia harus pulang pergi Kudus untuk PPL dan TC dia merasa tidak mampu “pastinya akan capek dan gak maksimal kalau pulang pergi Semarang – Kudus buat TC dan PPL” tutur Ellyana.
            Dilema PPL dan TC kini memang kini sedang membelenggu dikalangan mahasiswa yang harus melaksanakan dua kewajiban tersebut. Utamanya yang harus membela daerahnya yang jauh dari Kota Semarang dan akan PPL di Kota Semarang. Hal tersebut membuat bimbang antara tetap mengambil PPL atau tidak, karena PorProv ini juga penting bagi prestasi atlet.
            “Sepat mikir buat gak ambil PPL dan fokus ke PorProv dulu, tapi bapak gak bolehin”  ujar Ellyana. Memang sulit untuk memilih pendidikan atau prestasi, pasti semua ingin keduanya dapat dicapai. Namun dalam keadaan seperti ini harus ada yang dikorbankan entah pendidikannya atau prestasinya. (MLRA/093)


ITE Collage Tempa PPL Impian
            Mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi ankatan 2015 rombel Bilingual baru saja mendapat sosialisasi terkait pelaksanaa Program Pengenalan Lapangan (PPL) luar negeri, yang sering disebut PPL Antar Bangsa. Dan kali ini mahasiswa PJKR Bilingual berkesempatan untuk PPL di luar negeri dengan jumlah kuota yang lumayan banyak.
            Selama ini Fakultas Ilmu Keolahragaan khususnya jurusan PJKR memang sudah menjalin kerjasama dengan berbagai Universitas dan Sekolah Menengah Atas Sederajat di luar negeri seperti, ITE Collage Singapura, Kasesart University Thailand, Srinakharinwirot University Thailand, Chulalongkon Thailand, Mahasarakham University Thailand dan lain sebagainya.
            Melalui Prof. Tandiyo selaku Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan menyampaikan bahwa di tahun ini mahasiswa PJKR rombel Bilingual mendapat kesempatan untuk PPL di ITE Collage Singapura, ini merupakan kerjasama yang baru terjalin untuk mengadakan PPL disana, di tahun sebelumnya ITE Collage hanya untuk KKL saja, namun di tahun ini dapat di gunakan untuk PPL.
“Kami sudah menjalin kerjasama dengan bebrapa Universitas di luar negeri untuk PPL atau intership dan kali ini kalian mendapat kesempatan untuk PPL di ITE Collage Singapura dengan biaya free biaya tempat tinggal dan kuota untuk kloter pertama enam orang terdiri dari tiga laki – laki dan tiga perempuan dan di kloter kedua sama dengan kloter pertama. Total semua 12 mahasiswa” ujar Prof. Tandiyo. ITE Collage merupakan sekolah yang sederajat dengan SMA jika di Indonesia, dan merupakan sekolah favorit di Singapura.
Dalam sosialisasi tersebut turut serta pula Mr. Mugi dan Mr. Andre selaku Kepada dan Sekertaris Jurusan PJKR. Beliau berdua menanggapi dengan hangat sosialisasi tersebut dan mengaharap mahasiswa dari PJKR Bilingual dapat melaksanakan PPL di Singapura.
“Saya berharap mahasiswa Bilingual ini yang memang sudah di program untuk mampu mengajar dengan baha inggris dapat mengambil kesempatan ini untuk PPL di Singapura” jelasnya Mr. Mugi. Memang selama ini jurusan PJKR membuat kelas Bilingual guna mencetak pendidik Penjas yang mampu menguasai bahasa Inggris dan goal setting nya adalah mengajar di sekolah internasional sehingga perlu sekali di tempa untuk belajar mengajar atau PPL ditempat yang memang kesehariannya menggunakan bahasa Inggris.
Singapura merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang menggunakan bahasa Inggris di kesehariannya jadi memang layak dan pantas jika di jadikan sebagai tempat PPL bagi mahasiswa Bilingual. Karena hal tersebut membuat mahasiswa Bilingual tertarik untuk mengikuti program tersebut, namun memang terkendala biaya yang tidak sedikit. Jika diperkirakan untuk seluruh biaya mulai dari akomodasi sampai logistik dapatmencapai angka 10 juta, dan itu bukan harga yang murah bagi mahasiswa Bilingual.
“Jika dibandingkan dengan PPL di dalam negeri itungannya akan sama, karena setelah anda PPL anada akan melaksanakan KKN jadi jika di akumulasi pun akan sama. Namun jika anda mengikuti program ini, anda tidak perlu KKN karena PPL luar negeri ini sudah mencakup KKN. Sehingga biaya anda akan lebih ringan juga, dalam satu bulan sudah PPL dan KKN” ujar Mr. Andre menyakinkan.
Sontak mendengar hal tersebut membuat mahasiwa Bilingual menjadi memiliki rasa ingin mengikuti program tersebut. Salah satunya adalah Juwita Noristiqomah yang memang sudah tertarik dari awal untuk mengikuti program tersebut.
“ Aku pengen ikut, tapi biayanya banyak. Tapi nanti aku coba buat bawa alat masak dan beras sendiri untuk hemat” kata Juwita. Juwita sudah memiliki plan agar bisa hidup hemat saat di Singapura nanti dan dia juga sudah mempersiapkan biaya untuk keberangkatannya. (MLRA/093)




Usaha Tidak Akan Pernah Menghianati Hasil
Saat kumandang adzan Subuh bergema di langit Yogjakarta, seorang pria tampan dan bertubuh atletis bergegas meninggalkan tempat tidurnya untuk mengambil air Wudhu dan menuju Masjid yang setiap hari dia sambangi bersama dengan adik laki-lakinya. Ketika banyak orang memilih tidur setelah sholat subuh, namun tidak untuk ia. Nampak ia berganti pakaian olahraga dan bersiap untuk latihan pagi, yang memang telah menjadi makanan sehari-hari untuknya.
Rupanya, Candra Prasetio (21) seorang atlet bola voli asal Wonogiri, yang kini berdomisili di Yogjakarta  yang setiap pagi tak pernah absen berlari di sekitar kampus Universitas Negeri Yogyakarta. Lari jarak jauh, lompat tegak dengan gawang, dan spint adalah sarapan disetiap hari baginya, sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Candra adalah sosok yang pantang menyerah dan selalu berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Sejak SMP pemuda ini sangat menggandrungi olahraga bola voli, ia selalu berlatih keras untuk dapat menjadi pemain voli yang dapat diandalkan “sejak SMP aku berlatih secara intensif” kata candra singkat.
Usaha yang dilakukan Candra pun tak pernah berujung sia-sia, berkat kelihaiannya dalam bermain bola voli ia dapat di terima di Universitas Negeri Yogyakarta dengan jalur prestasi, dan ia juga masuk dalam salah satu club bola voli ternama di Yogyakarta, yaitu Yusho Gunadharma. Mungkin itu adalah sebagian kecil dari apa yang ia dapatkan dari hasil latihan dan kerja kerasnya selam enam tahn, dari SMP hingga SMA. Tak berhenti disitu ia masih memiliki mimmpi untuk menjadi salah satu pemain Proliga di Indonesia, namun sayang usahanya tahun lalu untuk masuk dalam salah satu tim proliga belum berhasil “ ya, saya tahun lalu pernah mencoba mengikuti seleksi proliga, tapi ya belum rejeki saya untuk disana. Mungkin tahun depan saya akan coba lagi” tutur Candra menjelaskan kisahnya.
Di zaman sekarang ini banyak pemuda yang sering putus asa ketika keinginan dan harapannya tidak tercapai, namun itu tidak ada dalam diri Candra, karena ia menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa. Ia harus selalu berusaha lebih keras dan lebih keras lagi, semua itu ia lakukan demi keluarganya. Ia selalu berpikir ketika ia mampu menjadi pemain pro itu bisa mengangkat drajat keluarganya. Karena Candra sebenarnya lahir dari keluarga yang bisa dikatakan kurang mampu, ayahnya adalah seorang buruh panggul di pasar Baturetno Wonogiri dan ibunya adalah seorang buruh tani, ia ingin sekali membantu perekonomian keluarganya dengan cara yang ia bisa. Selama ini ia rajin berlatih tak lain untuk meningkatkan performa permainannya, karena hampir setiap weekend ia mengikuti pertandingan antar kampung (tarkam) untuk menambah uang sakunya agar tidak begitu menyusahkan kedua orangtuanya.
   “Saya tarkam hampir setiap weekend, itung-itung buat tambah uang saku saya di sini. Ya walaupun hanya sedikit dapatnya” kata Candra. Memang tak seberapa uang hasil dari tarkam yang didapatkan Candra Rp 150.000 – Rp 200.000 perhari, tapi bagi Candra itu sudah lumayan cukup untuk menambah uang sakunya. Selama ini Candra juga sudah bisa membeli kebutuhan ia pribadi tanpa meminta uang pada orangtua, seperti sepatu, pakaian dan lainnya. Walaupun kehidupannya hanya sederhana ia juga masih bisa bebagi dengan sesama. Ia berbagi ilmunya di bola voli pada siswa-siswi SMP Pangudu Luhur Yogyakarta, setiap satu minngu dua kali ian melatih di SMP tersebut tanpa dibayar, namun ia diberi tempat tinggal disalah satu asrama disana.
“Alhamdulillah, selama empat tahun ini saya tidak membayar uang untuk kos di Yogya, karena saya tinggal di asrama SMP Pangudi Luhur Yogyakarta ini tanpa dikenai biaya” jelas Candra.Memang selama ini Candra tinggal di asrama SMP Pangudi Luhur Yogyakarta bersama dengan Bruder Kepala Sekolah SMP tersebut. Awal mulanya Candra di tawari tinggal di asrama oleh Bruder Kepala Sekolah tersebut, karena ia lulusan dari yayasan Pangudi Luhur juga dan Bruder merasa senang dengan sikap Candra yang Pekerja keras dan ulet.
Ketika berbicara tentang Candra, pasti banyak orang akan tersanjung dengannya, tak hanya karena kegigihannya dan kerja kerasnya dalam berlatih bola voli. Namun juga karena segudang prestasi di perkuliahannya, dari semester satu Candra selalu mendapat IP diatas 3,50 atau biasa dikatakan coumlade dan setiap tahun Candra selalu menjadi mahasiswa berprestasi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta, tak hanya itu setiap tahun ia juga di rekomendasikan menjadi penerima biasiswa PPA dari universitas dan selalu lolos sampai saat ini.
Kini Candra tak hanya bergelut di dunia pervolian, ia juga merambah mendalami tentang massage karena ia masih memiliki mimpi untuk dapat kuliah di Amerika mengambil konsentrasi pada penanganan cidera atlet. Bagi dia cara penanganan cidera atlet sangat dibutuhkan di Indonesia karena saat ini masih sangat sedikit sekali ahli cidera di Indonesia, oleh sebab itu bagi Candra itu adalah peluang yang sangat besar “saya ingin jadi ahli cidera setelah lulus nanti, peluangnya besa r si” kata Candra sambi mengelap keringat paginya.
Memamng mimpi seseorang itu tak ada habisnya dan memimpi setinggi-tingginya itu wajib bagi seseorang, karena dengan mimpi kita akan terdorong untuk melampaui batas kemampuan kita, itu prinsip yang selalu dipegang oleh Candra selama ini. Oleh sebab itu tak ada mimpi dari Candra yang tak ia wujudkan, mungkin ada beberapa dan banyak mimpi yang tak terwujud namun ia tak pernah menyerah sedikitpun “namanya semangat mba, ya kadang ilang kadang dateng. Tapi ya saya tetap berdoa yang terbaik” tutur candra dengan polosnya.
Candra memang polos dan juga lugu, jika dilihat sekilas tak ada yang menyangka bahwa dia adalah seorang atlet yang berprestasi dan juga pandai. Pendiam dan hanya sering memberikan senyuman pada teman atau orang disekitarnya tapi dia adalah sosok yang sangat ramah dan tidak pernah memilih-milih teman, dari golongan anak-anak samapai orangtuapun sangat akrab pada sosoknya. Orang di rumah asalnya Baturetno Wonogiri pun sangat akrab dengan dia, dan setiap kali ia pulang, ia tak berdiam dirumah namun juga membatu orantuanya di sawah juga ikut membaur bersama tentangga. Apa lagi dengan orang dilingkungan asrama dan SMP yang setiap hari ia jelajahi, sangat akrab dan erat dengan Candra, bahkan di lingkungan sekolahnya dulu semasa SMP dan SMA sangat mengenal dia dan selalu menjadi bahan pembicaraan sebagai contoh.
Begitulah sosok Candra yang hidupnya selalu bisa memotivasi orang lain, dan kata mutiara usaha tidak akan pernah menghianati hasil memang cocok untuk Candra, usahanya selama ini tidak pernah menghianati hasil yang ia dapatkan, dan begitu juga harapan ia kedepannya. Ia belajar dengan tekun, berlatih dengan dengan gigih dan hidup sederhana untuk masa depannya yang baik “ bagi saya usaha tidak akan pernah menghianati hasil yang saya akan dapat. Allah selalu mendengar” begitlah singkat Candra berkata. Luar biasa memang kisah hidup singkat Candra  selama ini, menjadi motivasi sesama dan contoh bagi banyak orang. Bahwa hidup itu semua harus di impikan dan diusahakan dengan sangat maksimal, tidak setengah-setengah.
“Kalau usaha ya jangan setengah-setengah nanti hasilnya juga setengah” tutur candra sedikit memotivasi. Dulu ia pernah mengusahakan sesuatu tak semaksimal mungkin dan ia mendapat hasil yang setengah juga. Itu mengapa Candra sudah enggan untuk mengusahakan sesuatu yang hanya setengah-setengah, karena ia memang ingin hasil yang diperolehnya semaksimal mungkin sesuai dengan apa yang sudah di usahakannya, namun jika memang belum berhasil itu bukan masalah, yang terpenting sudah mengusahakan semuanya dengan maksimal “Tuhan pasti tahu usaha kita” tambahkan Candra mengakhiri perbincangan singkat kami pagi itu.
Berat rasanya menghadapi kehidupan yang sulit, namun sosok Candra ini membuat orang muda khususnya mahasiswa semakin termotivasi untuk berbuat yang lebih. Menganggap bahwa kekurangan dalam hal finalsial atau ekonomi bukanlah hambatan untuk berprestasi dan berproses lebih jauh. Banyak catatan keberhasilan Candra yang patut di di acungi jempol dan nilai sepuluh.
Selain itu iman yang di pegangnya sangat tertanam begitu erat di dirinya, hidupnya selalu mengandalkan Tuhan dan tak pernah luput dari doa yang dipanjatkannya setiap hari. Rasa gengsi dan iripun tak ada dalam diri Candra bahkan dia malah mengajari untuk selalu berbagi dan selau berprestasi dengan tetap menjadi diri sendiri tanpa mengubah diri menjadi orang lain untuk disukai oleh banyak orang. (MLRA/093)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar