Perjalanan
rombongan mahasiswa Universitas Negeri Semarang jurusan Pendidikan Jasmani
kesehatan dan Rekreasi rombel bilingual selama 5 hari dari hari Senin-Jumat,
23-27 April 2018 ke Singapura memiliki banyak cerita kejadian yang membuat
terkekeh.
Pemberangkatan seluruh mahasiswa
diberangkatkan dari bandara internasional Achmad Yani, Semarang sejumlah 24
orang, dari semua anggota rombongan hanya ada 1 orang yang sudah pernah pergi
ke luar negeri, dan kebanyakan baru pertama kali ke luar negeri dan pertama
kali naik pesawat. Dengan minimnya pengalaman namun kayanya pengetahuan mereka
tetap yakin untuk sampai di negeri seribu larangan tersebut.
Pada saat boarding pass terjadi
keberatan barang bawaan yang mereka bawa, pada akhirnya salah seorang mahasiswa
menitipkan barang bawaan yang seabreg ke teman-temannya, dan mengurangi biaya
bagasi pesawat. “Cuma lima hari barang bawaan kaya mau pergi TKI”, canda salah
seorang mahasiswa.
Seluruh rombongan dinyatakan lolos untuk
berergian ke luar negeri oleh pihak imigrasi, perjalanan dalam pesawat dengan
penuh lika-liku cuaca buruk dan goncangan batin para mahasiswa yang baru pertama
kali naik pesawat, bermacam-macam tingkah laku ada yang berdoa sepanjang
perjalanan, swafoto setiap saat.
Menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dan pada akhirnya sampai di Singapura landing di bandara internasional Changi. Tidak
terbayang dibenak para mahasiswa karena begitu besar dan teknologi yang
canggih, dapat diibaratkan seperti rombongan anak bebek. Pada saat menuju hotel
dari bandara ada kejadian 3 orang tertinggal di stasiun mrt bandara. “semuanya
tenang kita tunggu mereka sampai 5 mrt lewat kalau lebih nanti kita tinggal”,
intruksi ketua rombongan.
Pada akhirnya mereka dipertemukan
dengan ketiga orang yang tertinggal dan berjalan menyusuri malam menuju hotel.
Keesokan harinya rombongan diagendakan untuk berkunjung ke ITE Collage East
yang ditempuh selama 30 menit perjalanan menggunakan bus. Semua mata terbelalak
melihat keindahan kota, dimana gedung-gedung menjulang tinggi, bersih, dan
rapi.
Semua anggota rombongan sadar bahwa
mereka sedang berada di negri seribu larangan, mereka berubah menjadi
manusia-manusia disiplin yang taat dengan aturan tidak seperti di negeri
sendiri. “Disini semuanya memiliki aturan, dari mulai jalan, tidak boleh makan
dan minum sembarangan, tidak boleh merokok sembarangan, parkir sembarangan,
jika melanggar akan dikenai denda”, ungkap Bakharrudin.
Pada hari ketiga dan keempat di negeri
singa mereka mengelilingi kota mulai dari ke sentosa islands, pantai Palawan,
universal studio, marina grand bay park, merlion park, bugis street.
Dihari kelima rombongan rombel
bilingual kembali ke Indonesia dengan selamat, dan dengan penuhnya isi koper
ataupun tas yang mereka bawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar