Rabu, 02 Mei 2018

Lima Hari Berkelana Di Negeri Seribu Larangan


Perjalanan rombongan mahasiswa Universitas Negeri Semarang jurusan Pendidikan Jasmani kesehatan dan Rekreasi rombel bilingual selama 5 hari dari hari Senin-Jumat, 23-27 April 2018 ke Singapura memiliki banyak cerita kejadian yang membuat terkekeh.

Pemberangkatan seluruh mahasiswa diberangkatkan dari bandara internasional Achmad Yani, Semarang sejumlah 24 orang, dari semua anggota rombongan hanya ada 1 orang yang sudah pernah pergi ke luar negeri, dan kebanyakan baru pertama kali ke luar negeri dan pertama kali naik pesawat. Dengan minimnya pengalaman namun kayanya pengetahuan mereka tetap yakin untuk sampai di negeri seribu larangan tersebut.

Pada saat boarding pass terjadi keberatan barang bawaan yang mereka bawa, pada akhirnya salah seorang mahasiswa menitipkan barang bawaan yang seabreg ke teman-temannya, dan mengurangi biaya bagasi pesawat. “Cuma lima hari barang bawaan kaya mau pergi TKI”, canda salah seorang mahasiswa.

Seluruh rombongan dinyatakan lolos untuk berergian ke luar negeri oleh pihak imigrasi, perjalanan dalam pesawat dengan penuh lika-liku cuaca buruk dan goncangan batin para mahasiswa yang baru pertama kali naik pesawat, bermacam-macam tingkah laku ada yang berdoa sepanjang perjalanan, swafoto setiap saat.

Menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam dan pada akhirnya sampai di Singapura landing di bandara internasional Changi. Tidak terbayang dibenak para mahasiswa karena begitu besar dan teknologi yang canggih, dapat diibaratkan seperti rombongan anak bebek. Pada saat menuju hotel dari bandara ada kejadian 3 orang tertinggal di stasiun mrt bandara. “semuanya tenang kita tunggu mereka sampai 5 mrt lewat kalau lebih nanti kita tinggal”, intruksi ketua rombongan.

Pada akhirnya mereka dipertemukan dengan ketiga orang yang tertinggal dan berjalan menyusuri malam menuju hotel. Keesokan harinya rombongan diagendakan untuk berkunjung ke ITE Collage East yang ditempuh selama 30 menit perjalanan menggunakan bus. Semua mata terbelalak melihat keindahan kota, dimana gedung-gedung menjulang tinggi, bersih, dan rapi.

Semua anggota rombongan sadar bahwa mereka sedang berada di negri seribu larangan, mereka berubah menjadi manusia-manusia disiplin yang taat dengan aturan tidak seperti di negeri sendiri. “Disini semuanya memiliki aturan, dari mulai jalan, tidak boleh makan dan minum sembarangan, tidak boleh merokok sembarangan, parkir sembarangan, jika melanggar akan dikenai denda”, ungkap Bakharrudin.

Pada hari ketiga dan keempat di negeri singa mereka mengelilingi kota mulai dari ke sentosa islands, pantai Palawan, universal studio, marina grand bay park, merlion park, bugis street.


Dihari kelima rombongan rombel bilingual kembali ke Indonesia dengan selamat, dan dengan penuhnya isi koper ataupun tas yang mereka bawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar