Senin, 26 Maret 2018

Taufik Hidayat Lecut Motivasi Anthony Ginting

Taufik Hidayat,mantan pemain bulutangkis legendaris Indonesia. mengaku merasa kecewa dengan prestasi atlet-atlet bulutangkis Indonesisa khususnya nomor tunggal putra, tidak seperti nomor ganda putra yang sering di sebut Minion.

Taufik Hidayat angkat bicara, "Kevin Sanjaya/Marcus Gideon juara lagi. Selamat ya di pengujung tahun jadi yang terbaik, kapan bisa lihat tunggal putra bisa juara lagi dan stabil kaya ganda putra? Siapa dan apa yang salah di tunggal putra? Pelatihnya? Pelatih fisiknya? Atau nutrisi? Apa mental pemainnya? Tolong untuk PBSI evaluasi yang maksimal dong, apalagi mau Asian Games 2018 sebagai tuan rumah. Semangat terus pemain-pemain indonesia," tulis Taufik pada akun Instagram-nya.

 https://instagram.com/p/Bczme9KhsUE/?utm_source=ig_embed

Dipenghujung 2017 Anthony Ginting berhasil membuat Indonesia bangga, dibuktikan dengan meraih podium teratas dalam kejuaraan Indonesia Master 2018 di Istora Senaiyan,Minggu (28/01/2018).

"Ucapan Taufik itu malah menjadi motivasi buat kami untuk membuktikan diri. Kami dan pelatih, Hendri serta Irwansyah, tetap positif menanggapi ucapan itu. Jadi tidak apa-apa karena itu kritik yang membangun motivasi," ujar Anthony.

Kekuatan Kedua Raksasa Sepakbola Eropa Masih Sama Kuat

Kekuatan Kedua Raksasa Sepakbola Eropa Masih Sama Kuat

Wakanda Sport News–Germany-Kedua raksasa sepakbola Eropa Germany dan Spanyol bertemu dalam friendly match untuk persiapan mereka sebelum menyambut Piala Dunia 2018 di Russia mendatang. Pertandingan yang di gelar pada sabtu (24/3) malam waktu setempat berjalan sangat seru dan sengit, tim tamu Spanyol langsung menggebrak pertahanan tim Germany pada menit-menit awal. Hal tersebut cukup mengagetkan pertahanan tim Germany, alhasil Spanyol dapat mencetak gol terlebih dahulu melalui gol Rodrigo Moreno yang memanfaatkan assist cantik dari Iniesta pada menit ke-4 babak pertama. Setelah gol tersebut tim Germany mulai tersentak dengan tampil menyerang dengan tempo yang cepat ciri khas sepakbola Germany. Beberapa peluang berbahaya tercipta melalui pemain tim Germany yang bertubi-tubi menyerang pertahanan tim spanyol, namun kesigapan kiper tim spanyol David De Gea yang menggagalkan peluang-peluang Germany tersebut hingga skor sementara masih bertahan 0-1 untuk kemenangan spanyol.

Gol yang di tunggu-tunggu public Germany akhirnya tercipta, melalui serangan yang bagus kerjasama tim Germany di tuntaskan menjadi goal oleh Thomas Mueller melalui sepakan jarak jauh yang indah dan gagal di bendung De Gea pada menit ke-35 yang membuat skor pertandigan sama kuat 1-1. Gol tersebut membuat pertandingan menjadi tambah seru dan ketat, namun hingga berakhirnya babak pertama skor 1-1 tetap bertahan.




Setelah turun minum tim Germany memulai pertandingan dan langsung menekan pertahanan tim spanyol dengan serangan-serangan cepat mereka.serangan yang di kreatori oleh playmaker mereka Mesut Ozil menghasilkan beberapa peluang yang mengancam gawang Spanyol. Beberapa kali De Gea harus jatuh bangun untuk membendung serangan-serangan Germany yang membahayakan gawangnya. Selain De Gea mistar gawang pun beberapa kali menyelamatkan gawang tim spanyol dari kebobolan, seperti sundulan Mats Hummels, sepakan Toni Kroos, dan juga sundulan Mueller. Hal tersebut cukup membuat pemain tim Germany frustasi dengan sering melakukan kesalahan sendiri dan melakukan tendangan spekulasi dari jarak jauh. Germany mulai kehilangan konsentrasi mereka karena frustasi ingin menang dihadapan public sendiri namun belom bias juga mencetak gol lagi akibat penampilan cemerlang kipper spanyol De Gea. Hingga di bunyikannya peluit panjang berakhirnya babak kedua skor 1-1 tetap bertahan dan tidak ada lagi tambahan gol di babak kedua. Hasil ini dapat menjadi gambaran bagi kedua tim untuk persiapan mereka di Piala Dunia 2018 agar dapat berbenah dan berlatih untuk menampilkan permainan terbaiknya nanti. Karena kedua raksasa sepakbola eropa ini adalah calon juara piala dunia 2018 nanti.

SKN FC Kebumen


 BERITA OLAHRAGA


TIM Pro Futsal League 2018: SKN FC Kebumen Sedang Melakukan Latihan Rutin


SKN FC Kebumen adalah klub futsal yang berasal dari Kebumen yang sedang melakukkan debutnya di ajang professional. Berikut adalah daftar nama-nama pemain SKN FC :
M Iksan Rahardian (GK)
M Irvan Noviawan (GK)
Jeni Firmansyah
Andi Fardiansyah
Amril Daulay
Zakarriya Anwar
Faisal Rahmad
Andre Harmaji
Fariza Yodhanata
Yusuf Ahmad Khaerudin
Rahmat Widyanto
Fahrudin Puji Haryono
Farhan Rizqy
Darwis Teurupun
Ahmad Khoerun
Khairul Effendy Bahrin
Muhammad Ramli

Pada tanggal 24 Maret 2018, pukul 16.00 Tim SKN FC Kebumen sedang melakukkan latihan rutinnya di Score Stadium Futsal Dukuwaluh Purwokerto. Walaupun mereka berasal dari Kebumen tetapi untuk training centernya mereka lakukkan di Purwokerto karena di daerah asalmya sendiri tidak memiliki fasilitas, sarana, dan prasarana yang memadai untuk pusat latihan sebuah tim professional. Pada saat tim SKN FC menjadi tuan rumah, mereka lakukkan di GOR Amongrogo, Yogyakarta.
Saat ini tim SKN FC melakukkan latihan rutin guna mempersiapkan turnamen-turnamen yang akan dihadapi guna mendapatkan hasil yang lebih baik.

Minggu, 25 Maret 2018

Muda Pemberani untuk mengibarkan Merah Putih di Ajang ATC 2018

         

sumber image: http://bola.liputan6.com/read/3338983/foto-potret-mario-suryo-aji-bocah-13-tahun-yang-ukir-sejarah-di-arrc?page=3

         Mario Suryo Aji pembalap 14 tahun yang prestasinya sudah mencapai go international. Di umur 14 tahun dia sudah beberapa kali mendapat penghargaan ditingkat nasional dan internasional. Kali ini dia mendapat podium di ajang bergengsi yaitu Asia Talent Cup 2018 di Chang International Circuit ,Buriram, Thailand pada 24 maret 2014. Pembalap muda ini masuk dalam Astra Honda Racing Team, pada saat berlaga di sirkuit panas Chang beberapa kali dia memimpin pertandingan dab beberapa kali dia duel dengan rider asal jepang Haruki Noghuci. Balapan di atas sirkuit panas amat menegangkan antara Mario (indonesia) dan Haruki (jepang). Dilap 10 Mario mulai memimpin balapan sengit itu dan lap berikutnay Mario disalip pembalap lainnya terus melawan hingga Mario dan haruki saling bertarung gas dan rem di sirkuit panas.Mereka berdua saling saling kerena jarak mereka dengan pembalap lain cukup jauh. Kemudian menjelang lap akhir keberuntungan belum memihak ke rider Indonesia Mario Aji di tingkungan akhir Mario tersalip oleh Haruki tapi Mario tetap melakukan perlawanan namun posisi pertama finis dipegang oleh Haruki dan Posisi kedua dipegang Mario. Pembalap muda ini tak petah semangat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih di podium tertinggi, dia bertekad untuk race ke 2 akan naik ke podium tertinggi, mengalahkan rider-rider lainnya.

by reza puji riyanto (6101415012)

Semarang Tak Main-Main Gendong Juara Umum Lagi Dalam PORPROV 2018

Kota Semarang, sebagai ibu Kota Jawa Tengah tak main-main untuk menggendong gelar juara umum lagi dalam PORPROV 2018.
Oktober 2018 ini akan menjadi ajang yang dinanti-nantikan bagi masyarakat Jawa Tengah untuk saling unjuk gigi dalam pagelaran olahraga terbesar di Jateng (PON-nya Jateng), begitu juga dengan Kota Semarang yang telah mempersiapkan semuanya dengan manis dan sangat baik. Seperti terlansir dalam TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG, "Tak semena-mena Kota Semarang siapkan 12 miliar dalam APBD 2017 untuk persiapan cabang - cabang olahraga dalam kualifikasi  PORPROV 2018" ujar Endang
Hampir 80 persen dana tersebut digunakan untuk pembiyaan persiapan atlet dan tim pelatih. Tak hanya itu Koni Kota Semarang telah mempersiapkan tim monitoring dan evaluasi untuk setiap cabang olahraga. "kami telah merencenakan membentuk tim pendamping untuk setiap cabang guna monitoring dan evaluasi. KONI akan memaksimalkan potensi yang ada dalam mempersiapkam atlet menghadapi Pra-Porprov" terang Endang dalam Tribunjateng.com
salah satu cabang olagara Kota Semarang yang lolos untuk PORPROV 2018 ini adalah Tim Futsal, dan tim futsal Semarang ini adalah satu - satunya tim futsal dari eks-Karisidenan Semarang yang mampu lolos ke PORPROV 2018.

PESERTA FUTSAL PORPROV 2108
1. Jepara (juara group A)
2. Klaten (juara group B)
3. Sragen (juara group C)
4. Temanggung (juara group D)
5. Boyolali (juara group E)
6. Karanganyar (juara group F)
7. Kota Semarang (runner up terbaik)
8. Banjarnegara (runner up terbaik)
9. Pati (runner up terbaik)
10. Kudus (runner up terbaik)







Rabu, 21 Maret 2018

Sejarah pers nasional dan dunia

PERS NASIONAL SEJAK PROKLAMASI

 
Dr. De Haan dalam bukunya, “Oud Batavia” (G. Kolf Batavia 1923), mengungkap secara sekilas tentang awal mula dimulainya dunia persuratkabaran di Indonesia, bahwa sejak abad 17 di Batavia sudah terbit sejumlah koran dan surat kabar. Dikatakannya, bahwa pada tahun 1676 di Batavia telah terbit sebuah koran bernama Kort Bericht Eropa (berita singkat dari Eropa). Koran yang memuat berbagai berita dari Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Inggris, dan Denmark ini, dicetak di Batavia oleh Abraham Van den Eede tahun 1676. Setelah itu terbit pula Bataviase Nouvelles pada bulan Oktober 1744, Vendu Nieuws pada tanggal 23 Mei 1780, sedangkan Bataviasche Koloniale Courant tercatat sebagai surat kabar pertama yang terbit di Batavia tahun 1810.

Sejak abad 17 dunia pers di Eropa memang sudah mulai dirintis. Sekalipun masih sangat sederhana, baik penampilan maupun mutu pemberitaannya, surat kabar dan majalah sudah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat di masa itu. Bahkan, para pengusaha di masa itu telah meramalkan bahwa dunia pers di masa mendatang merupakan lahan bisnis yang menjanjikan. Oleh karena itu, tidak heran apabila para pengusaha persuratkabaran serta para kuli tinta asal Belanda sejak masa awal pemerintahan VOC, sudah berani membuka usaha dalam bidang penerbitan koran dan surat kabar di Batavia.

Walaupun demikian, tujuan mereka bukan cuma sekadar untuk memperoleh keuntungan uang. Namun, mereka telah menyadari bahwa media masa disamping sebagai alat penyampai berita kepada para pembacanya dan menambah pengetahuan, juga punya peran penting dalam menyuarakan isi hati pemerintah, kelompok tertentu, dan rakyat pada umumnya. Apalagi, orang Belanda yang selalu mengutamakan betapa pentingnya arti dokumentasi, segala hal ihwal dan kabar berita yang terjadi di negeri leluhurnya maupun di negeri jajahannya, selalu disimpan untuk berbagai keperluan.

Dengan kata lain media masa dimasa itu telah dipandang sebagai alat pencatat atau pendokumentasian segala peristiwa yang terjadi di negeri kita yang amat perlu diketahui oleh pemerintah pusat di Nederland maupun di Nederlandsch Indie serta orang-orang Belanda pada umumnya. Dan apabila kita membuka kembali arsip majalah dan persuratkabaran yang terbit di Indonesia antara awal abad 20 sampai masuknya Tentara Jepang, bisa kita diketahui bahwa betapa cermatnya orang Belanda dalam pendokumentasian ini.
Dalam majalah Indie, Nedelandch Indie Oud en Nieuw, Kromo Blanda, Djawa, berbagai Verslagen (Laporan) dan masih banyak lagi, telah memuat aneka berita dari mulai politik, ekonomi, sosial, sejarah, kebudayaan, seni tradisional (musik, seni rupa, sastra, bangunan, percandian, dan lain-lain) serta seribu satu macam peristiwa penting lainnya yang terjadi di Indonesia.


SEJARAH JURNALISTIK DI DUNIA

Awal  mulanya muncul jurnalistik dapat diketahui dari berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM).

“Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”.

Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.

Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.

Berita di “Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.

Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).

Dalam sejarah Islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004), cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan.

Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.

Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai kantor berita pertama di dunia.

SEJARAH PERKEMBANGAN PERS DI INDONESIA DAN DUNIA


 PERKEMBANGAN PERS DI INDONESIA

A. Sebelum Indonesia Merdeka
Perkembangan pers sudah dimulai sejak sebelum Indonesia mendapatkan kemerdekaannya, berikut penjelasan lengkapnya.

1. Jaman Penjajahan Belanda

  • Pada tahun 1676, telah terbit ‘Kort Bericht Eropa’ (berita Singkat Eropa) di Batavia. Namun isinya merupakan berita-berita dari negara lain. Pada Tahun 1744 juga terbit Batavia Nouvelles, dan pada tahun 178- tebit harian Vende Nieucus.
  • Pada tahun 1810 terbit surat kabar “Batavia Koloniale Courant’, surat kabar inilah yang merupakan surat kabar pertama yang terbit di Batavia.
  • Tahun 1828 terbit Javache Courant di Jakarta, yang isinya seputar berita resmi pemerintah, berita lelang, atau kutipan dari harian di Eropa. Pada tahun 1835 juga terbit Soerabajash Advertentiebland di Surabaya, yang isinya serupa.
  • Media massa pada masa ini telah memuat aneka berita seperti politik, ekonomi, sosial, sejarah, kebudayaan, seni tradisional dan peristiwa lain. Namun berita tersebut hanya berita-berita yang kering, sebab penerbitan tidak boleh mengedarkan berita sebelum diperiksa olah penguasa.
  • Hinggga akhir abad ke-18, media massa yang terbit di Indonesia hanya menggunakan bahasa belanda. Pada akhir abad 18 lah, baru muncul terbitan berbahasa melayu. Pada tahun 1985 terdapat 16 suratkabar berbahasa Belanda, dan 12 surat kabar berbahasa Melayu. Muncul pula surat kabar berbahasa Cina pada masa itu.
  • Awal abad 19, pers mulai menyebarkan berita mengenai politik serta perbedaan paham antara pemerintah dan masyarakat. Tahun 1916 kritik yang menyerempet soal politik mulai marak.
  • Pada tahun 1903 terbit ‘Medan Prijaji’, surat kabar pertama yang dikelola oleh kaum pribumi. Ini menandakan mulainya bangsa kita masuk ke dalam dunia pers yang berbau politik. Surat kabar yang oleh pemerintah Belanda disebut ‘Inheemsche Pers’ (pers Bumiputra) ini dipimpin oleh R.M Tirto yang merupakan pelopor kebebarsan bersuara bagi kaum pribumi.
  • Setelah ‘Medan Prijaji’, banyak bermunculan surat kabar lain seperti ‘Harian Oetosan Hindia’ yang didirikan oleh Tjokroaminoto dari sarikat Islam; Koran ‘Api, Halilintar dan Nyala’ yang didirikan Samau dari golongan kiri, ‘Guntur bergerak dan Hindia Bergerak yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, ‘Benih Merdeka’ dan ‘Sinar merdeka’ yang didirikan oleh Parada Harahap di Padang Sidempuan, serta ‘Suara Rakyat Indonesia’ dan Sinar Merdeka’ yang didirikan oleh Bung Karno.

2. Jaman penjajahan Jepang

Sejak Jepang berkuasa di negri ini, beberapa surat kabar di Indonesia diambil alih secara perlahan. Beberapa surat kabar dipaksa untuk bergabung, disatukan. Agar pemerintah Jepang dapat memperketat pengawasan terhadap surat kabar yang berdar. Peran surat kabar pada masa ini hanya sebagai alat Jepang, bersifat propaganda – memuji pemerintah jepang. Segala bidang usaha pers harus disesuaikan dengan rencana-rencana atau tujuan – tujuan tentara Jepang, yaitu memenangkan Perang Asia Timur Raya.


B. Setelah Indonesia Merdeka
Perkembangan pers berlanjut pesat setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya.

1. Awal kemerdekaan (1945-1959)

  • Sejak teks proklamasi dicetak di Koran, esoknya penduduk mulai memburu surat kabar. Minat baca serta kesadaran akan kebutuhan pers telah meningkat, rakyat Indonesia ingin tahu perkembangan negaranya yang baru merdeka ini melalui pers.
  • Perkembangan pers setelah proklamasi sangat pesat, meskipun tetap mendapat tekanan dari penguasa peralihan Jepang dan Sekutu. Wartawan – wartawan Indonesia dan penyiar – penyiar radio giat melakukan penyebarluasan, sehingga pada bulan September seluruh wilayah Indonesia dan dunia luar telah mengetahui tentang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
  • Pada tanggal 6 September 1945 terbit ‘Nerita Indonesia’ yang merupakan surat kabar republik pertama. Surat kabar ini disebut sebagai cikal bakal pers nasional sejak proklamasi.
  • Pada tanggal 8 – 9 September 1946, kalangan pers Indonesia mengadakan kongres di Solo dan membentuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). PWI merupakan wadah untuk mempersatukan pendapat dan aspirasi. Saat itu PWI diketuai oleh Mr. Sumanang.
  • Pada masa ini media massa menyebarkan berita tentang pertempuran, perundingan, pembangunan, serta peristiwa bahagia atau duka yang terjadi.
  • Pada tahun 1948, media massa mulai diwarnai berita perpecahan antara golongan kanan ( Front Nasional) dan golongan ekstrim kiri (komunis –  Front Demokrasi Rakyat). Pada tahun ini pula pertamakalinya terjadi pembredelan Koran dalam sejarah pers Republik Indonesia.
  • 15 MAret 1950, dibentuk panitia Pers untuk mempererat hubungan pemerintah dan pers, namun tanpa ikatan apapun yang mengurangi kemerdekaan pers.
  • 14 September 1956, kepala Staff Angkatan Darat mengeluarkan peraturan no. PKM/001/0/1956 yang menegaskan larangan untuk menerbitkan/ menyebarkan informasi yang mengandung kecaman/ penghinaan terhadap presiden dan wakil presiden.
  • 14 Maret 1957, pemberlakukan situasi darurat perang (SOB) banyak terjadi pembredelan pers dan penahanan wartawan di masa ini.
  • 1 oktober 1958, Penguasa Militer Daerah Jakarta Raya mengeluarkan Ketentuan Ijin Terbi

    2. Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

    • Pada masa ini di Jakarta berlaku larangan berpolitik dalam segala bentuk termasuk pers. Dilarang melakukan kegiatan politik yang dapat mempengaruhi haluan negara secara langsung atau yang tidak bersumber pada badan pemerintahan yang berwenang. Yang membangkang Demokrasi Terpimpin, harus menyingkir atau disingkirkan.
    • Pada tahun 1960, penerbit bukan hanya wajib mengajukan Surat Ijin Terbit (SIT) sebagai pengesahan dilakukannya kegiatan penyiaran, tapi juga wajib mengajukan Surat Ijin Cetak (SIC).
    • Untuk mendapatkan SIT penerbit harus menyetujui pernyataan bahwa penerbit akan mendukung Manipol – Usdek, dan akan mematuhi pedoman dari penguasa. Pernyataan ini digunakan sebagai alat untuk menekan surat kabar oleh pemerintah.
    • Pada masa ini surat kabar yang beredar hanya bersumber dari satu suaram yaitu PKI. Sebagai usaha untuk mengimbanginya didirikan BPS (badan Penyebar Soekarnoisme), untuk menghindari bahaya yang terjadi jika masyarakat hanya memiliki pegangan dari satu sumber saja.

    3. Orde Baru (1965-1998)

    • Pada masa orde baru aturan yang menindas pers tetap dilestarikan. Banyak terjadi pembredelan Koran yang dianggap bertentangan dengan pemerintah antara lain: majalah Sendi (1972), Sinar Harapan (1973), pada tahun 1974 ada 12 penerbitan di brendel, setelah peristiwa Malari meledak. Tahun 1978 Kompas Sinar Harapan, Merdeka, Pelitia, The Indonesian Times, Sinar Pagi, dan Pos sore dibekukan sementara waktu akibat maraknya aksi mahasiswa yang menentang pencalonan Soeharto sebagai Presiden. Majalah Tempo 91982), Jurnal Ekuin (1983), dll
    • Pada tahun 1970 sampai 1998, Pers yang berlaku adalah Pers Pancasila. Pers semata-mata hanya alat pemerintah, pers kehilangan indepedensi dan fungsi kontrolnya. Terdapat sistem perizinan terhadap pers (SIUPP), dan PWI yang merupakan satu-satunya organisasi wartawan di Indonesia malah menjadi operator pemerintah dalam menekan pers.
    • Pada tanggal 7 Agustus terbentuk AJI, sebagai wujud sikap menolak wadah tunggal wartawan (PWI). Keberadaan AJI ditentang, wartawan yang menjadi anggota AJI diberhentikan dan tidak boleh dipekerjakan kembali sebagai wartawan.
    • Pada tahun 1995 penyebaran informasi lewat internet mulai marak, informasi-informasi yang sulit disebarkan lewat media cetak beredar luas lewat internet.

      4. Era Reformasi (1998 – sekarang )

      • Semenjak lahirnya era reformasi, kebebasan pers (kebebasan berekpresi dan berpendapat) dijamin. Akhirnya pers dapat lepas dari sistem yang membungkam pers dimasa orde baru. Hal ini di tandai dengan dirombaknya UU Pers no. 21 Tahun 1982.
      • Namun tetap saja pers tidak benar-benar bebas. Sebab meskipun memiliki UU sendiri, yang menjamin perlindungan hukum serta kebebasan dari paksaan dan campur tangan pihak manapun; pers masih bisa dijerat dengan pasal-pasal KUHP dalam melakukan tugas jurnalistiknya. Contohnya kasus antara pemimpin redaksi majalah Tempo – Harry Mukti dengan Tommy Winata di tahun 2004 lalu, dll.
      • Dilain pihak, era reformasi yang membuka kebebasan untuk bereksplorasi malah membuat media dieksploitasi. Media menyebarkan informasi yang bernilai jual tinggi, mengumbar sensasi, bahkan menyebarkan informasi yang hanya berkualifikasi isu, rumor atau hanya dugaan! Lebih ekstrim, pers diterbitkan untuk tujuan politis. Mempengaruhi pembaca untuk menerima ideology calon tertentu dan menyerang lawannya.
      • Hal ini mengakibatkan ‘publik’ kemudian menjalankan aksi menghukum pers dengan tolak ukur mereka sendiri. Padahal teror massa jauh lebih kongnrit dampaknya. Contoh kasus pedudukan media oleh kelompok tertentu, akibat beredarnya karikatur Nabi Muhammad beberapa waktu lalu.
       


Sejarah Perkembangan Pers di Dunia

A.    Perkembangan Pers Sebelum Ditemukannya Mesin Cetak
Awal mulanya muncul jurnalistik dapat diketahui dari barbagai literature tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Arca Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan Kaisar Julus Caesar (100-44 SM). Arca Diurna, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau sekarang papan informasi), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dumia. Julus Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”.
Dalam sejarah islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004), cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal bersama sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan. Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara keluar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan.
Pada abad ini manusia dalam menyampaikan informasi masih menggunakan kertas yang terbuat dari kulit kerbau, sapi, dan sebagainya yang dikenal dengan vellum. Namun cara membuat kertas dengan metode tersebut prosesnya panjang dan sangat mahal sehingga hanya orang-0orang tertentu yang menggunakannya.
B.     Perkembangan Pers pada Abad Ke-15
Pada abad ini ditemukan mesin Gutenberg pada tahun 1450 oleh Jonannes Gutenberg dari Jerman. Gutenberg pertama kalinya membuat acuan huruf logam dengan menggunakan tinta hitam untuk membuat tulisan aksara latin. Yang menyerupai tulisan tangan tegak bersambung. Hingga Gutenberg menemukan mesin cetak bergerak. Dengan adanya mesin cetak ini, memberikan perubahan yang besar bagi jurnalisme yang menggantarkan jurnalisme ke titik 100%.
C.     Perkembangan Pers pada Abad Ke-18
Pada abad ini jurnalisme lebih pada menuju bisnis dan alat politik daripada sebuah profesi. Adapula keterampilan desain mulai berkembang sejalan dengan majunya media percetakan (majalah dan surat kabar). Pada tahun 1690 terbit surat kabar yang modern. Sejak abad ini jurnalistik bukan hanya menyiarkan berita (to inform) tetapi juga mempengaruhi pemerintahan dan masyarakat (to influence).
D.    Perkembangan Pers pada Abad Ke-20
Pada abad ini media semakin berkembang. Pada tahun 1920 munculnya radio dianggap sebagai salah satu pesaing media cetak. Namun, media cetak tidak kehilangan pembacanya, ptidak seeikit orang membaca berita melalui media cetak karena berita yang disampaikan melalui radio singkat, sedangkan berita yang dimuat di media cetak tertulis sangat rinci. Setelah muncu radio, muncullah televise dan komputer, komputer ini berkembang yang dulunya sebagai alat ketik manual, kini menjadi komputer dan laptop. Pada abad ini pers lebih digunakan sebagai media untuk mencurahkan isi hati bangsa yang terjajah.
E.     Perkembangan Pers Setelah Abad Ke-20
Pada abad ini teknologi mengalami perkembangan yang sangat cepat yang mengakibatkan media juga ikut berkembang. Masa ini dikenal dengan masa internet. Pada masa ini mulai munculnya situs-situs pribadi yang memuat laporan jurnalistik pemiliknya seperti web dan blog. Terdapat beberapa karakteristik media dimasa ini, yaitu sebagai berikut:
a.      Audience
b.      Immediacy
c.       Interactivity
d.      Multimedia capability
e.       Non linearity
Respon pemerintah terhadap pers pada masa internet ini bahwa persdi Indonesia seperti yang dikatakan pemerintah dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang prinsip yang mengatur ketentuan dan hak-hak penyelenggara pers di Indonesia. Jurnalistik di Indonesia memiliki tiga keistimewaan hak yaitu, hak tolak, hak jawab, dan koreksi dalam kode etik jurnalis

 http://putrirahmahidayatillah.blogspot.co.id/2017/03/sejarahperkembangan-pers-di-dunia-a.html
 https://pakarkomunikasi.com/perkembangan-pers-di-indonesia

Sejarah Pers Dunia dan Pers Indonesia

 Hallo..kawan - kawan pembaca, ini adalah tulisan pertama saya.
jadi mohon maaf ya jika tulisannya masih berantakan. haha
Ok. kali ini saya akan menulis tentang Sejarah Pers Dunia dan Pers di Indonesia yang saya ambil dari beberapa sumber.
Selamat membaca kawan - kawan :)


Pers adalah badan yang membuat penerbitan media massa secara berkala.[butuh rujukan] Secara etimologis, kata Pers(Belanda), atau Press (inggris), atau presse (prancis), berasal dari bahasa latin, perssare dari kata premere, yang berarti “Tekan” atau “Cetak”, definisi terminologisnya adalah “media massa cetak” atau “media cetak”.[butuh rujukan]Media massa, menurut Gamle & Gamle adalah bagian komunikasi antara manusia (human communication), dalam arti, media merupakan saluran atau sarana untuk memperluas dan memperjauh jangkauan proses penyampaian pesan antar manusia.
Dalam UU pers no 40 tahun 1999, Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan meyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia.

Sejarah jurnalistik di mulai pada masa Romawi kuno, pada masa pemerintahan Julius Caesar (100-44 SM). Pada waktu itu, ada acta diurna berisi hasil uji coba semua, peraturan baru, keputusan senat dan informasi penting lainnya yang dipasang di pusat kota yang disebut Stadion Romawi atau “Forum Romanum”.
Surat kabar pertama diterbitkan di Cina pada tahun 911, Pau Kin. Koran ini dimiliki oleh pemerintah ketika masa Kaisar Quang Soo. Tidak berbeda dalam Age of Caesar, Kin Pau mengandung berita keputusan, pertimbangan dan informasi lain dari Istana. Pindah ke Jerman, tahun 1609, penerbitan surat kabar pertama bernama Avisa Relation Order Zeitung. Pada 1618, surat kabar tertua di Belanda bernama Coyrante uytItalien en Duytschland. Surat kabar pertama di Inggris diterbitkan pada 1662 bernama Oxford Gazette (later the London) dan diterbitkan terus menerus sejak pertama kali muncul. Surat kabar pertama di Perancis, the Gazette de France, didirikan pada tahun 1632 oleh raja Theophrastus Renaudot (1.586-1.653), dengan perlindungan Louis XIII. Semua surat kabar yang terkena sensor prepublication, dan menjabat sebagai instrumen propaganda untuk monarki.
Industri surat kabar mulai menunjukkan kemajuan yang luar biasa ketika budaya membaca di masyarakat semakin meluas. Terlebih ketika memasuki masa Revolusi Industri, di mana industri surat kabar diuntungkan dengan adanya mesin cetak tenaga uap, yang bisa meningkatkan kinerja untuk memenuhi permintaan publik akan berita.
Pada pertengahan 1800-an bisnis berita mulai berkembang. Organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Pasalnya, para pengusaha surat kabar dapat lebih menghemat pengeluarannya dengan berlangganan berita kepada kantor-kantor berita itu daripada harus membayar wartawan untuk pergi atau ditempatkan di berbagai wilayah. Kantor berita yang masih beroperasi hingga hari ini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).
Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst. Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu “meningkatkan penjualan!”.
Jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.
Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme professional.
Penemuan Mesin Cetak
Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenbergadalah seorang pandai logam dan pencipta berkebangsaan Jerman yang memperoleh ketenaran berkat sumbangannya di bidang teknologi percetakan. Gutenberg (1398- 3 Februari 1468) Tradisi menamainya sebagi pencipta movable type di Eropa, suatu perbaikan sistem pencetakan blok yang sudah digunakan di wilayah tersebut.
Karya utamanya, Alkitab Gutenberg (juga dikenal sebagai Alkitab 42 baris), telah diakui memiliki estetika dan kualitas teknikal yang tinggi. Gutenberg juga diakui karena memperkenalkan tinta berbasis minyak yang lebih tahan lama dibandingkan tinta berbasis air yang dulu dipergunakan. Sebagai bahan percetakan dia menggunakan naskah yang terbuat dari kulit binatang dan kertas, yang terakhir diperkenalkan di Eropa dari Cina dengan menggunakan cara orang Arab beberapa abad yang lalu.
Masa muda
Gutenberg lahir di kota Mainz, Jerman, sebagai putra bungsu dari pedagang kelas atas Friele Gensfleisch zur Laden, dari istri keduanya, Else Wyrich. Menurut beberapa laporan Friele adalah seorang tukang emas untuk uskup di Mainz, namun kemungkinan besar ia juga melakukan perdagangan kain sebagai sumber penghasilannya. Tahun kelahiran Gutenberg tidak diketahui persis namun kemungkinan besar sekitar 1398.
Ia menerima latihan awal sebagai seorang tukang emas. Pada tahun 1411, terjadi pemberontakan di Mainz, sehingga dia harus pindah ke Strasbourg dan tinggal di sana selama 20 tahun. Di Strasbourg, beliau menyambung hidupnya dengan membuat barang yang terbuat logam. Gutenberg menghasilkan hiasan kecil bercermin untuk dijual kepada peziarah agama Kristen. Dia kemudiannya pulang ke Mainz dan bekerja sebagai seorang tukang emas.
Pers Indonesia dimulai Sejak dibentuknya Kantor berita ANTARA didirikan tanggal 13 Desember 1937 sebagai kantor berita perjuangan dalam rangka perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, yang mencapai puncaknya dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945.[butuh rujukan]
Kantor berita Antara didirikan oleh Soemanang saat usia 29 tahun, A.M. Sipahoentar saat usia 23 tahun, Adam Malik saat berusia 20 tahun dan Pandu Kartawiguna.[3] Adam Malik pada usia 21 tahun diminta untuk mengambil alih sebagai pimpinan ANTARA, dikemudian hari Ia menjadi orang penting dalam memberitakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.[4]
Karena kredibilitasnya, Adam Malik setelah menduduki jabatan semula sebagai ketua Kantor berita Antara, ia diangkat sebagai Menteri Perdagangan, Duta Besar, Menteri Utama Bidang Politik, Menteri Luar Negeri, Presiden Sidang Majelis Umum PBB, Ketua DPR/MPR dan Wakil Presiden.[5]

Kemerdekaan pers dalam arti luas adalah pengungkapan kebebasan berpendapat secara kolektif dari hak berpendapat secara individu yang diterima sebagai hak asasi manusia.[butuh rujukan] Masyarakat demokratis dibangun atas dasar konsepsi kedaulatan rakyat, dan keinginan-keinginan pada masyarakat demokratis itu ditentukan oleh opini publik yang dinyatakan secara terbuka.[butuh rujukan] Hak publik untuk tahu inilah inti dari kemerdekaan pers, sedangkan wartawan profesional, penulis, dan produsen hanya pelaksanaan langsung.[butuh rujukan] Tidak adanya kemerdekaan pers ini berarti tidak adanya hak asasi manusia (HAM).[6]
Pembahasan RUU pers terakhir 1998 dan awal 1999 yang kemudian menjadi UU no. 40 Tahun 1999 tentang pers sangat gencar.[butuh rujukan] Independensi pers, dalam arti jangan ada lagi campur tangan birokrasi terhadap pembinaan dan pengembangan kehidupan pers nasional juga diperjuangkan oleh kalangan pers.[butuh rujukan] Komitmen seperti itu sudah diuslukan sejak pembentukan Persatuan Wartawan Indonesia PWI tahun 1946.[butuh rujukan] Pada saat pembahasan RUU pers itu di DPR-RI, kalangan pers dengan gigih memperjuangkan independensi pers.[butuh rujukan] Hasil perjuangan itu memang tercapai dengan bulatnya pendirian sehingga muncul jargon “biarkanlah pers mengatur dirinya sendiri sedemikian rupa, sehingga tidak ada lagi campur tangan birokrasi”.[butuh rujukan] Aktualisasi keberhasilan perjuangan itu adalah dibentuknya Dewan Pers yang independen sebagaimana ditetapkan dalam UUD No. 40 tahun 1999 tentang Pers.[butuh rujukan]
Kemerdekaan pers berasal dari kedaulatan rakyat dan digunakan sebagai perisai bagi rakyat dari ancaman pelanggaran HAM oleh kesewenang-wenangan kekuasaan atau uang.[butuh rujukan] Dengan kemerdekan pers terjadilah chek and balance dalam kehidupan bangsa dan bernegara.[butuh rujukan] Kemerdekaan pers berhasil diraih, karena keberhasilan reformasi yang mengakhiri kekuasan rezim Orde Baru pada tahun 1998.[7]

Sumber
http://ejournal.ukm.my/mjc/article/view/15093/4698
https://herapujiastuti.wordpress.com/2015/01/07/sejarah-pers-dunia-dan-perkembangannya/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pers_Indonesia

Sejarah Pers Indonesia dan Pers Dunia

Bagaimana Sejarah Pers Indonesia dan Pers Dunia??


1. Sejarah Pers Indonesia

PERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) setiap tanggal 9 Februari didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985. Keputusan Presiden Soeharto pada 23 Januari 1985 itu menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Akan tetapi, sebelum keputusan itu, HPN telah digodok sebagai salah satu butir keputusan Kongres ke-28 Persatuan Wartawan (PWI) di Padang, Sumatera Barat, pada 1978. Kesepakatan tersebut, tak terlepas dari kehendak masyarakat pers untuk menetapkan satu hari bersejarah untuk memperingati peran dan keberadaan pers secara nasional.

Pada sidang ke-21 Dewan Pers di Bandung tanggal 19 Februari 1981, kehendak tersebut disetujui oleh Dewan Pers untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah sekaligus menetapkan penyelenggaraan Hari Pers Nasional.

Lebih jauh, HPN tidak bisa dilepaskan dari fakta sejarah mengenai peran penting wartawan sebagai aktivis pers dan aktivis politik. Sebagai akivis pers, wartawan bertugas dalam pemberitaan dan penerangan guna membangkitkan kesadaran nasional serta sebagai aktivis politik yang menyulut perlawanan rakyat terhadap kemerdekaan.

Peran ganda tersebut tetap dilakukan wartawan hingga setelah proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Bahkan, pers kemudian mempunyai peran strategis dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Pada 1946, aspirasi perjuangan wartawan dan pers Indonesia kemudian beroleh wadah dan wahana yang berlingkup nasional pada 9 Februari 1946 dengan terbentuknya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Lahirnya PWI di tengah situasi perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan, melambangkan kebersamaan dan kesatuan wartawan Indonesia dalam tekad dan semangat patriotiknya untuk membela kedaulatan, kehormatan, serta integritas bangsa dan negara.

Kehadiran PWI juga diharapkan mampu menjadi tombak perjuangan nasional menentang kembalinya konolialisme dan dalam menggagalkan negara-negara boneka yang hendak meruntuhkan Republik Indonesia.

Sejarah lahirnya surat kabar dan pers itu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dari sejarah lahirnya idealisme perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan. Hadir dari kesadaran itu, pada 6 Juni 1946 di Yogyakarta, tokoh-tokoh surat kabar dan tokoh-tokoh pers nasional berkumpul untuk mengikrarkan berdirinya Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS).

SPS menyerukan agar barisan pers nasional perlu segera ditata dan dikelola baik dalam segi ide serta komersialnya. Hal itu mengingat bahwa pada kala itu pers penjajah dan pers asing masih hidup dan tetap berusaha mempertahankan pengaruhnya.

Jika ditilik lebih jauh, sebetulnya SPS telah lahir jauh sebelum tanggal 6 Juni 1946, yaitu tepatnya telah ada empat bulan sebelumnya bersamaan dengan lahirnya PWI di Surakarta pada tanggal 9 Februari 1946. Karena kesamaan itulah, banyak orang yang kemudian menjuluki SPS dan PWI sebagai “kembar siam”. Pada 9-10 Februari itulah, wartawan dari seluruh Indonesia berkumpul dan bertemu. Mereka datang dari beragam kalangan wartawan, seperti pemimpin surat kabar, majalah, wartawan pejuang dan pejuang wartawan.

Dari pertemuan besar pertama itu, mereka berhasil memutuskan beberapa poin di antaranya (a) menyetujui dibentuknya PWI yang diketuai oleh Mr. Sumanang Surjowinoto dengan sekretaris Sudarto Tjokrosisworo, (b) membentuk 8 komisi yang bertugas merumuskan hal ihwal persuratkabaran nasional serta usaha koordinasinya ke dalam satu barisan pers nasional dengan satu tujuan, yaitu ”Menghancurkan sisa-sisa kekuasaan Belanda, mengobarkan nyala revolusi, dengan mengobori semangat perlawanan seluruh rakyat terhadap bahaya penjajahan, menempa persatuan nasional, untuk keabadian kemerdekaan bangsa dan penegakan kedaulatan rakyat.” Kemudian, komisi 10 orang tersebut dinamakan ”Panitia Usaha”.

Baru setelah 26 tahun, pengalaman pers nasional dan kesulitan di bidang percetakan kemudian melahirkan Serikat Grafika Pers (SGP) pada pertengahan tahun 1960-an. Kesulitan semakin mencekik ketika kemerosotan peralatan cetak dalam negeri digempur kecanggihan teknologi mutakhir luar negeri.

Kelimpungan dengan hal itu, tergeraklah keinginan untuk meminta pemerintah ikut mengatasi kesulitan tersebut untuk memperbaiki keadaan pers nasional dan berkontribusi dalam pengadaan peralatan cetak dan bahan baku pers. Hingga akhirnya, pada Januari 1968 dilayangkan nota permohonan kepada Presiden Soeharto.

Menanggapi hal itu, pemerintah mengesahkan Undang-Undang penanaman modal dalam negeri yang menyediakan fasilitas keringanan pajak dan bea masuk serta dimasukkannya grafika pers dalam skala prioritas telah memacu berdirinya usaha-usaha percetakan baru.
Menyusul berbagai kegiatan persiapan, berlangsunglah Seminar ke-1 Grafika Pers Nasional pada Maret 1974 di Jakarta. Kemudian, keinginan untuk membentuk wadah grafika pers SGP terwujud pada 13 April 1974.

Persatuan Perusahaan periklanan Indonesia (P3I) ditetapkan sebagai anggota organisasi pers nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Pers. Penetapan tersebut, disusul bahwa bidang usaha (aspek komersial) periklanan berada di bawah pembinaan Departemen perdagangan dan Koperasi sedangkan bidang operasionalnya (aspek idenya) ditempatkan dalam pembinaan Departemen Penerangan.

Pers selalu mengalami dinamika permasalahannya dari masa ke masa. Bukan saja pada masa Orde Baru, namun juga sebelum Orde Baru hingga saat ini mulai dari belenggu kolonialisme hingga kebebasan pers yang dibungkam. Maka dari itu, diharapkan, melalui peringatan HPN, insan pers dan masyarakat sudah seharusnya senantiasa berbenah dan mewujudkan cita-cita Indonesia.

(Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2017/02/09/sejarah-peringatan-hari-pers-nasional-392979 )

2. Sejarah Pers Dunia

Banyak orang yang mengatakan bahwa pers sudah ada sejak lama. Cikal bakalnya muncul sejak zaman Romawi Kuno (59 SM). Sejumlah catatan sejarah menyebutnya sebagai Acta Diurna, semacam jurnal yang beritanya masih ditulis tangan alias tak dicetak.

Sekalipun cikal bakalnya ada di Romawi, koran edisi cetak sendiri ternyata tak muncul di sana untuk kali pertama. Koran edisi cetak pertama justru dikenal di Cina, bernama Di Bao (Ti Bao) yang terbit sekitar tahun 700-an. Tentu, jangan pernah membayangkan bahwa koran itu terlihat bagus seperti yang kita lihat setiap hari sekarang, sebab Di Bao dicetak dengan menggunakan balok kayu yang dipahat. Hurufnya aksara Cina. Ahli sejarah sepakat bahwa Di Bao adalah koran pertama di dunia yang sudah dicetak.

Selain hurufnya yang masih kasar, bentuk koran zaman dulu juga juga tak seperti sekarang yang terdiri atas berlembar-lembar halaman. Bentuk koran pada zaman dulu masih sangat sederhana, masih berupa lembaran berita atau disebut newssheet.

Dari sisi isi, juga lebih banyak berkaitan dengan dunia bisnis para banker serta pedagang dari Eropa. Termasuk koran berikutnya, Notize Scritte yang terbit di Venesia, Italia. Saat itu, koran lembaran ini biasanya banyak dipasang di tempat umum. Namun, untuk membacanya warga harus membayar 1 gazzeta. Dari sanalah, konon, muncul istilah gazette yang dalam perkembangannya diartikan sebagai koran.

Era kebangkitan koran lantas terjadi menyusul penemuan mesin cetak oleh Johan Gutenbergh pada pertengahan abad XV. Penemuan mesin yang memudahkan proses produksi ini memicu terbitnya koran-koran di Eropa, sekalipun prosesnya tak sekaligus.

Awalnya, lembar berita yang terbit tidak teratur dan memuat cuma satu peristiwa yang saat itu sedang terjadi. Koran berkala muncul tahun 1609 dengan terbitnya mingguan Avisa Relation oder Zeitung di Jerman. Berikutnya terbit pula Frankfurter Journal (1615). Sampai kemudian lahir Leipzeiger Zeitung (1660), juga di Jerman, yang mula-mula mingguan, kemudian jadi harian. Inilah koran harian pertama di dunia.

Koran lainnya yang kemudian muncul adalah The London Gazette yang terbit di Inggris tahun 1665. Namun koran yang pertama terbit secara harian di Inggris adalah The London Daily Courant (1702), disusul The Times yang terbit sejak abad XVII dan yang pertama kali memakai sistem cetak rotasi.

(Sumber : http://deakuswangga.blogspot.co.id/2014/02/sejarah-singkat-pers-dunia-indonesia.html )


Senin, 19 Maret 2018

SEJARAH PERS DUNIA dan INDONESIA

Sejarah Pers Dunia dan Indonesia


1. Sejarah Pers Dunia


        Sejarah pers dunia di mulai saat pemerintahan Julius Caesar yaitu masa Romawi kuno tahun 44 SM. Dimana hasil uji coba, peraturan baru, keputusan senat dan informasi penting lainnya di pasang pada pusat kota di Stadiun Romawi (forum romanum). Surat kabar pertama kali diterbitkan di Cina tahun 911, Pau Kin yang mana koran ini dimiliki oleh pemerintah Quang Soo. Di Jerman tahun 1609, surat kabar pertama bernama Avisa Relation Order Zeitung. Di Belanda surat kabar pertama bernama Coyrante uytItalien en Duytschland. Di Inggris surat kabar pertama diterbitkan tahun 1662 yang bernama Oxford Gazette (later the London). Kemudian di Prancis surat kabar bernama the Gazette de France pada tahun 1632 oleh raja Theophrastus Renaudot. Pada pertengahan tahun 1800 bisnis berita mulai berkembang. Beberapa kantor organisasi berita sudah berfungsi dan mengumpulkan berita dan tulisan didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah. Kantor berita yang masih beroperasi hingga hari ini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).Kemudian pada tahu 1800 pula muncul istilah yellow journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk pertempuran headline antara dua koran besar di Kota New York. Yang mana satu dimiliki Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst. Jurnalisme kuning memiliki ciri khas yaitu pemberitaan yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judulnya yang menarik perhatian publik dan tujuannya hanya satu yaitu meningkatkan penjualan. Jurnalisme kuning tidak bertahan lama karena munculnya jurnalisme sebagai profesi. Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pad tahun 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara lain dimasa berikutnya. pada saat itupula kursus-kursus jurnalis mulai banyak diselenggarakan diberbagai universitas yang melahirkan konsep pemberitaan yang tidak biasa dan dapat dipertanggung jawabkan sebagai standart kualitas bagi jurnalisme profesional.
Junalisme semakin berkembang dengan adanya penemuan-penemuan sebagai berikut:
1. Penemuan Mesin Cetak oleh Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg pada tahun 1398-3 februari 1468 di Gutenberg. Dan di Gutenberg juga ditemukan penyempurna huruf dan tinta.
2.  Penemuan kertas yang awalnya menggunakan daun lontar tahun 200 SM kemudian dikembangkan di Cina pada abad kedua dan semakin berkembang dinegara jerman.

(sumber:https://herapujiastuti.wordpress.com/2015/01/07/sejarah-pers-dunia-dan-perkembangannya/)

2. Sejarah Pers Indonesia


        Secara garis besar sejarah perkembangan Pers di Indonesia dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu sebelum kemerdekaan, dan pada masa kemerdekaan. Perkembangan pers di Indonesi pada masa sebelum kemerdekaan fokusnya pada pergerakan nasional. Sedangkan pada sesudah kemerdekaan antara lain demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin (orde lama) dan demokrasi pancasila (orde baru) dan era reformasi atau transisi dari otoriter ke demokrasi.

 a. Sejarah Pers sebelum Kemerdekaan

        Perkembangan pers di Indonesia mulai terlihat pada masa pergerakan nasional, yaitu sejak bulan Mei 1908 atau sejak lahirnya pergerakan Budi Utomo. Pers pada masa ini merupakan sarana komunikasi yang utama yang diperlukan untuk meningkatkan persatuan, kesadaran nasional dan kebangkitan bangsa Indonesia.



      Pada masa sebelum kemerdekaan, pers merupakan bagian yang penting dalam pergerakan nasional, walaupun pada saat itu kegiatan praktis semakin terlihat yang dilakukan oleh organisasi-organisasi di Indonesia.  Bahkan perkembangan pergerakan nasional menuntut lebih banyak sarana penerangan dan perkembangan persatuan wartawan. Perjuangan memerdekaan Indonesia juga dilakukan oleh kalangan wartawan dan pers, terbukti dengan pada waktu itu munculnya berbagai majalah dan surat kabar seperti Benih Merdeka, SoeraRakyat Merdeka, Fikiran Ra'jat, Daulat Ra'jat Soera Oemoem dan lain sebagainya, serta Organisasi Persatoen Djoernalis Indonesia (Perdi).



        Ketika pendudukan militer jepang, pers di Indonesia ditutup. Jepang takut dengan adanya pers maka rakyat Indonesia bisa bersatu dan mengusir jepang dari Indonesia. Jepang kemudian menerbitkan surat kabar dan majalah di beberapa kota-kota besar di Indonesia dengan kewajiban menyajikan propaganda untuk kepentingan Jepang.



      Akan tetapi para para wartawan asal Indonesia yang bekerja di penerbitan-penerbitan yang dikuasai secara ketat oleh jepang tetap melibatkan diri dalam pergerakan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.



      Bahkan sebagian tokoh pers Indonesia aktif dalam persiapan proklamasi kemerdekaan bersama para pemimpin organisasi politik nasional. Setelah soekarno dan hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, wartawan sangat dibutuhkan untuk menyebarluaskan pernyataan kemerdekaan Indonesia sehingga seluruh rakyat Indonesia dan bangsa-bangsa lain dapat mengetahui bahwa negara kita sudah merdeka. Jadi para wartawan beperan untuk menyebarluaskan berita Indonesia merdeka, dan mempertahankan kemerdekaan dan mencegah kembalinya penjajahan Belanda di Indonesia.

b. Sejarah Pers Berkembang pada masa Kemerdekaan


Pada masa kemerdekaan ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu pada era demokrasi perlementer, demokrasi terpimpin dan era demokrasi Pancasila (Orde baru).



1. Pada era demokrasi parlementer

Pada era demokrasi parlementer pola pertentangan antara kelompok pemerintah dan kelompok oposisi dalam dunia kepartaian juga ditumbuhkan dalam dunia pers. sehingga timbul di satu pihak pers mendukung kabinet, dan dilain pihak pers oposisi. Namun di samping itu, ada juga pers yang memilih pola pers bebas seperti negara-negara liberal dengan kadar kebebasan dan persepsi tanggung jawab yang banyak ditentukan oleh wartawan masing-masing.



2. Pada era demokrasi terpimpin dan demokrasi pancasila (Orde lama dan Orde baru)

Pada era orde lama dan juga orde baru, negara kita mengembangkan pers otoriter. Pers Otoriter menggunakan pers yang digunakan sebagai kontrol pemerintah, pers digunakan untuk mendukung dan membantu politik pemerintah yang berkuasa untuk mengabdi kepada negara.



A. Muis salah seorang ahli/pakar dalam persn nasional menggambarkan perkembangan pers di kedua era tersebut tampak pada kebijakan media di tentukan oleh pemerintah ditempatkan di atas hukum media (media law). Akibat dari kebijakan ini maka akan lahir format tanggung jawab pers adalah tanggung jawab politik, bukan tanggung jawab hukum. 



Pelaksanaan tanggung jawab pers bukan bukan dihadapan hakim (pengadilan) melainkan dihadapat pejabat-pejabat Departemen Penerangan dan atau di hadapan pejabat pejabat Departemen Pertahanan dan tindakan represif lainnya, dalam rangka menciptkan kondysuo serta menciptakan situasi yang kondusif serta menciptakan stabilitas nasional yang mantap dan dinamis.



Sistem PERS era Orde Baru menggunakan istilah pers Pancasila dan sistem pers yang bebas dan bertanggung jawab (meniru social responbility). Tetapi doktrinnya tidak lain adalah doktrin pers otoriter. Sistem pers Orde Lama tidak memiliki nama khusus, tetapi dalam praktek sama dengan sistem Orde Baru (otoriter).



3. Pers pada era reformasi



Sejak adanya Undang undang. No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, mulai dikenal yang namanya fenomena pers bebas. Sebagai contoh, salah satu peraturan yang terdapat dalam UU tersebut yaitu tidak ada syarat-syarat untuk menjadi wartawan atau penerbit pers. 



Kebebasan pers ini ternyata dirasakan oleh Presiden Abdulrahman Wahid kala itu. Pasalnya kala itu Pers dinilai sangat merugikan presiden, hal itu dikarenakan pemeberitaan yang dilakukan tidak sesuai dengan kekayaan serta cara-cara pemberitaan yang tidak benar termasuk cara yang disebut "memelintr kata-kata" (spinning of words). 



Untuk mengatasi hal tersebut, Presiden kemudian membuat sebuah keputusan pada bulan Mei 2001 yaitu membuat Tim pemantau media, tim ini hampir sama denga media wetch (pengawas media) pemerintah. Tujuan dibentuk tim pemantau media ini adalah untuk menuntut secara hukum (pidana atau perdata) terhadap media massa yang dinilai merugikan pemerintah. 



Pada era Presiden Megawati Soekarnoputri kondidsi perkembangan pers masih relatif sama dengan pemerintahan sebelumnya, yakni hubungan pers dengan presiden tidak begitu harmonis. Pemberitaan pers sering dinilai merugikan presiden.
  
(sumber:http://www.kitapunya.net/2015/12/sejarah-perkembangan-pers-di-indonesia.html)