![]() |
| ITE College East |
Pagi yang cerah dikontrakan megah salah satu mahasiswa PJKR Bilingual, beberapa mahasiswa
PJKR Bilingual angkatan 2015 untuk mengikuti program kuliah KKL (kuliah kerja
lapangan) ke Singapore. Sebelum rombongan berangkat rombongan mahasiswa
mengikuti acara pelepasan oleh jurusan yang dilepas secara simbolis di ruangan
sidang skripsi Laboratorium Soegijono. Mereka dilepas langsung oleh kepala
jurusan PJKR Bapak Dr. Mugiyo Hartono M.Pd dan beberapa dosen.
Canda tawa mewarnai perkumpulan
disalah satu kontrakan mahasiswa PJKR Bilingual. Detik demi detik semua
berkumpul dan berbincang perihal nanti apa yang harus disepakati disana karena
di Singapore negara yang sangat disiplin, sekali melanggar ada denda yang tidak
kecil apabila di rupiahkan, Ujar ketua KKL Singapore.
Disaat terik matahari mulai bersinar salah satu
mahasiswa memesan moda transportasi online yang sedang buming beberapa tahun
ini. Tak menunggu lama transportasi tersebut menjemput rombongan mahasiswa yang
cantik dan ganteng untuk berangkat ke bandara Ahmad Yani Semarang.
Perjalanan menuju bandara diwarnai dengan sedikit
nyanyian merdu dari salah satu mahasiswi untuk menghibur di salah satu mobil. Dan sampailah di bandara
Ahmad Yani Semarang mahasiswa menunggu untuk cek jumlah anggota
kelompok dan beberapa ada yang berfoto imut didepan pelataran bandara.
Disaat atmosfir mulai panas ada mahasiswa yang keteakutan dan merinding saat
maua masuk pemeriksaan.“ Pertama kali merasakan
bagaimana suasana di area bandara mulai dari boardingpass, pengecekan barang,
penyetakan tiket, pengecekan data identitas dll yang dikawal ketat dengan
pengamanan berlapis membuat tegang”, kata Mahasiswa berkacamata.
Setelah sekian lama menunggu mengurusi boardingpass, pengecekan barang, penyetakan tiket, pengecekan
data identitas dll. Mereka semua dipersilakan masuk ke
ruangan tunggu penerbangan internasional gate 4. Jadwal
pemberangkatan yang tertera ditiket keberangkatan pesawat dari Ahmad Yani pukul
15.40 WIB tetapi saat itu pesawat delay sampai 40 menit karena operasi belum siap. “Ternyata delay pesawat sangat
membosankan ditambah tanpa minuman karenan membawa minuman kedalam pesawat
tidak boleh, sekali bawa dibuang oleh petugas keamanan di bandara”, ujar Rio.
Perasaan mahasiswa kampungan saat dipesawat, “Pertama kali naik pesawat sangat dadigdug jantung ini dan takjup dengan
pemandangan diatas awan, terlihat sepanjang perjalanan keindahan bumi pertiwi
Indonesia ternyata indah dipandang dari atas”, ujar Si Kumis Tipis.
Sampailah di negeri singa bandara Changi Singapore, mahasiswa langsung merasa senang riang gembira melihat kawasan yang sangatlah berbeda dengan yang ada di semarang. Kemudian
mereka menuju kebagian migrasi untuk pengecekan identitas diri mereka satu per
satu.
Mahasiswa berselfi imut di bandara Changi. Setelah mereka puas berfoto
mereka menuju keluar bandara dan ternyata mereka langsung disambut oleh salah
satu pengajar di ITE East Collage yaitu Mr. Ray Mond Oong dengan senyum hangat.
Di negeri yang perlu mengeluarkan banyak kocek yang mana mereka harus membeli tiket MRT seharga 30 dollar Singapore untuk 3
hari disana. “Ternyata mahal
harga MRT sampai 30 dollar Singapore kalau di rupiahkan 300.000”, kata Si
Kriting.
Saat naik kapsul berjalan cepat salasatu
mahasiswa di kabarkan ada yang mengalami pusing kepala, karena belum terbiasan
dengan kereta cepat disana.
Pagi yang cerah dengan sedikit gerimis mereka pertama
menginjakan kaki di Singapore dan mereka mengunjungi ITE Collage East. Perjalanan
menuju ke ITE Collage East menggunakan bus dan diperjalanan mereka merasa
senang dan heran karena bisa melihat negara yang tertata rapi dan bersih disana
sini terlihat tak ada sampah sedikitpun. Sampai di ITE Collage East para
mahasiswa langsung disambut oleh Mr. Ray Mond Oong dengan sedikit candaan dan langsung
diajak mengelilingi ITE Collage East
Di sekolah yang megah dengan disinari matahari
yang hangat mereka mengikuti pembelajaran bersama
siswa-siswa ITE Collage East. Mereka mengikuti pembelajaran Manajemen PE, Swimming Class, Outdoor Class, Hockey
dan Strenght Conditioning exercise. Dan acara terakhir mahasiswa dikumpulkan dalam suatu forum yang isinya
tentang penjelasan sistem pembelajaran di Singapore yang berkaitan dengan
pendidikan jasmani baik untuk Primary
School dan Secondary School.
Dengan raut wajah yang semangat Mr.
Ray Mond Oong menjelaskan materi dan mahasiswa sangat antusias dan senang dengan mengikuti
rangkaian pembelajaran siang itu meskipun matahari sangat cerah dalam menyinari
ITE Collage East. Setelah semua rangkaian pembelajaran selesai mereka mendapat
cindera mata dari ITE Collage East berupa sertifikat mengikuti pembelajaran
singkat di ITE Collage East.
Perjalanan sehabis mencari pencerahan ilmu di sekolah megah dang gagah,
mereka pulang menuju penginapan tanpa dosen pendamping. Sampai dipenginapan malam
yang cerah penuh bintang beberapa mahasiswa mencari makanan dan beberapa
mahasiswa lainnya melihat secara langsung pertandingan AFC Cup di Stadion Jalan
Besar Singapore yang saat itu mempertemukan wakil dari Indonesia yaitu Persija
Jakarta melawan wakil dari Singapore yaitu Tampines Rovers FC.
Pagi yang dingi dengan suara burung jalak yang merdu menambah syahdu negeri singa.
Mahasiswa berwisata ke Sentosa Island yang dihiasi keindahan laut Palawan
yang jernih dan deburan ombak yang
memijat mata serta kapal-kapal yang bersandar. Setelah menikmati pemandangan di
Sentosa Island. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Universal Studio, tetapi
mereka tak masuk ke dalam Universal Studio. “Harga tiket sangat mahal mencapai 70 dollar Singapore jika di rupiahkan sekitar 700.000 rupiah”,
kata Ketua KKL, Abas. Tak lupa mereka berfoto imut didepan
globe Universal Studio.
Siang itu cuaca sangat cerah dengan sedikir semilir
angin bertiup yang menemani perjalanan mahasiswa. Dan disore hari mereka menuju
tempat Marina Bay yang mana disana terdapat patung Merlion icon Singapore, sore
itu lebih indah karena ditemani sunset dan senja sore itu di pelataran patung
Merlion.
Setelah senja berganti malam banyak gedung tinggi
pencakar langit dengan penerangan lampu warna –warni menambah keindahan kota.
Dengan riang gembira mereka cari sudut untuk berfoto. Pada jam 8 waktu setempat disekitar Marina Bay ada pertunjukan lampu
warna-warni yang menyinari langit Singapore, dengan berganti warna dan sedikit
iringan music merdu menambah nikmat malam itu. Beberapa turis disana
mengabadikan momen ini melalui gadget dan kamera digital, karena momen ini
sangat langkah dan hanya berjalan beberapa menit saja. Dengan gemerlap lampu
dan ditambah dengan area Merlion ada suatu bendungan diman banya kapal yang
melintas.dengan lampu warna-warni.
Pagi hari yang cerah perjalanan tak sampai disitu setelah
badan segar kembali mereka berkunjung ke Marina Garden semacam kebun besar kota yang berisi
bunga-bunga indah dang sangat rapi tersusun membuat semua mata terpesona.
Pemandangan dari jembatan atas taman juga tidak kalah indahnya. Setelah mereka menghabiskan
waktu untuk berfoto di Marina Garden.
Sesuatu yang takan pernah dilupakan dalam setiap perjalanan yaitu oleh-oleh yang berada
di Bugis. Banyak orang yang bilang tempat ini semacam pasar
tradisionalnya orang Singapore, karena disana banyak menjual oleh-oleh khas
Singapore mulai dari makanan, marchandise, pakaian, dll. Dari harganya juga
tidak terlalu mahal pas sekali dengan kantong yang mahasiswa. Banyak dari mahasiswa memborong tas yang harganya hanya 10 dollar dapat 3
dan tak lupa baju dengan icon merlion patung kepala singa berbadan ikan dengan
harga yang terjangkau hanya 10 dallar dapat 3.
Dan tak lupa bagi para mahasiswa yang mempunyai orang tercinta dan pecinta
coklat, disan ada coklat khas Singapore yang harganya tidak terlalu mahal dan
bias dijadikan oleh-oleh untuk teman kos,orang terdekat dan pacar jika
mempunyai. Setelah mereka puas membeli oleh-oleh, para mahasiswa mulai
merasakan lapar dan di area Bugis itu ada kuliner baik khas daerah,kuliner
Jepang, kuliner Cina dan kuliner Indonesia.
Salah satu mahasiswa parano dan takut makanan yang tercampur minyak babi. Menurut
Bakhar, meskipun ada kuliner khas Indonesia tapi mereka takut jika makanan yang
mereka makan bercampur dengan bahan yang mengandung babi yang mana haram bagi
umat muslim.
Tibalah saatnya dimana mereka harus meninggalkan tempat yang mengukir banyak kenangan saatnya chek out dari hotel untuk kembali ke Semarang.
Pagi itu mahasiswa sudah bersiap-siap untuk check out dari hotel dan mengecek apakah ada
barang yang tertinggal dihotel. melanjutkan perjalanan dari Changi Airport ke Jakarta.
Mereka pulang dengan hati riang gembira tanpa beban ke Jakarta, mereka naik pesawat Scoot dengan tujuan penerbangan bandara Soekarno Hatta telah
siap terbang dari Changi Airport menuju ke Soekarno Hatta tepat
pukul 11.20 waktu Singapore.
Jakarta sangat panas dan macet tapi mahasiswa seperti biasanya foto selfi untuk oleh-oleh dan laporan kepada
orang tua dan orang terdekat bahwa mereka sudah sampai di Jakarta. Untuk pulang
menuju Semarang mereka harus menggunakan kereta yang sebelumnya sudah dipesan
oleh panitia KKL Singapore. Untuk sampai di stasiun Pasar Senen mereka harus naik damri karena MRT yang disediakan oleh bandara hanya mengangkut dari stasiun
menuju bandara gratis dan dari bandara menuju stasiun harus berbayar 100.000
yang menurut mahasiswa sangatlah mahal. “Jadi untuk menuju stasiun
pasar senen yang mana naik MRT itu mahal diganti dengan moda
transportasi Damri yang harganya terjangkau hanya 40.000”, tegas Ketua KKL.
Saat diterminal burung besi menuju stasiun menempuh waktu yang tidaklah cepat yaitu 2 jam ke stasiun pasar senin. Didalam bus beberapa dari Mereka tidur
karena kecapean waktu perjalanan. Sampai di stasiun mereka merasa lapar karena perjalanan dari
singapura hanya memakan dua lembar roti gandum. Mereka akhirnya berinisiatif
membeli makanan ringan untuk mengganjal perut. Sembari menunggu salahsatu mahasiswa
mencetak tiket kereta.
Dan pada akhirnya mereka mendapatkan tiket dan langsung masuk kereta.
Sembari menunggu sampai disemarang mereka terlelap pulas
hingga sampai di pemberhentian terakhir kota perantauan Semarang.
reporter: reza pr

Tidak ada komentar:
Posting Komentar