Rabu, 23 Mei 2018

Negeri Patung Singa Tak Seperti Negeri Patung Pancoran

ITE College East


Pagi yang cerah dikontrakan megah salah satu mahasiswa PJKR Bilingual, beberapa mahasiswa PJKR Bilingual angkatan 2015 untuk mengikuti program kuliah KKL (kuliah kerja lapangan) ke Singapore. Sebelum rombongan berangkat rombongan mahasiswa mengikuti acara pelepasan oleh jurusan yang dilepas secara simbolis di ruangan sidang skripsi Laboratorium Soegijono. Mereka dilepas langsung oleh kepala jurusan PJKR Bapak Dr. Mugiyo Hartono M.Pd dan beberapa dosen. 
Canda tawa mewarnai perkumpulan disalah satu kontrakan mahasiswa PJKR Bilingual. Detik demi detik semua berkumpul dan berbincang perihal nanti apa yang harus disepakati disana karena di Singapore negara yang sangat disiplin, sekali melanggar ada denda yang tidak kecil apabila di rupiahkan, Ujar ketua KKL Singapore.
Disaat terik matahari mulai bersinar salah satu mahasiswa memesan moda transportasi online yang sedang buming beberapa tahun ini. Tak menunggu lama transportasi tersebut menjemput rombongan mahasiswa yang cantik dan ganteng untuk berangkat ke bandara Ahmad Yani Semarang.
Perjalanan menuju bandara diwarnai dengan sedikit nyanyian merdu dari salah satu mahasiswi untuk menghibur di salah satu mobil. Dan sampailah di bandara Ahmad Yani Semarang mahasiswa menunggu  untuk cek jumlah anggota kelompok dan beberapa ada yang berfoto imut didepan pelataran bandara.
Disaat atmosfir mulai panas ada mahasiswa yang keteakutan dan merinding saat maua masuk pemeriksaan.“ Pertama kali merasakan bagaimana suasana di area bandara mulai dari boardingpass, pengecekan barang, penyetakan tiket, pengecekan data identitas dll yang dikawal ketat dengan pengamanan berlapis membuat tegang”, kata Mahasiswa berkacamata.
Setelah sekian lama menunggu mengurusi boardingpass, pengecekan barang, penyetakan tiket, pengecekan data identitas dll. Mereka semua dipersilakan masuk ke ruangan    tunggu penerbangan internasional gate 4. Jadwal pemberangkatan yang tertera ditiket keberangkatan pesawat dari Ahmad Yani pukul 15.40 WIB tetapi saat itu pesawat delay  sampai 40 menit karena operasi belum siap. “Ternyata delay pesawat sangat membosankan ditambah tanpa minuman karenan membawa minuman kedalam pesawat tidak boleh, sekali bawa dibuang oleh petugas keamanan di bandara”, ujar Rio.
Perasaan mahasiswa kampungan saat dipesawat, “Pertama kali naik pesawat sangat dadigdug jantung ini dan takjup dengan pemandangan diatas awan, terlihat sepanjang perjalanan keindahan bumi pertiwi Indonesia ternyata indah dipandang dari atas”, ujar Si Kumis Tipis.
Sampailah di negeri singa bandara Changi Singapore, mahasiswa langsung merasa senang riang gembira melihat kawasan yang sangatlah berbeda dengan yang ada di semarang. Kemudian mereka menuju kebagian migrasi untuk pengecekan identitas diri mereka satu per satu.
Mahasiswa berselfi imut di bandara Changi. Setelah mereka puas berfoto mereka menuju keluar bandara dan ternyata mereka langsung disambut oleh salah satu pengajar di ITE East Collage yaitu Mr. Ray Mond Oong dengan senyum hangat.
Di negeri yang perlu mengeluarkan banyak kocek yang mana mereka harus membeli tiket MRT seharga 30 dollar Singapore untuk 3 hari disana. “Ternyata mahal harga MRT sampai 30 dollar Singapore kalau di rupiahkan 300.000”, kata Si Kriting.
Saat naik kapsul berjalan cepat salasatu mahasiswa di kabarkan ada yang mengalami pusing kepala, karena belum terbiasan dengan kereta cepat disana.
Pagi yang cerah dengan sedikit gerimis mereka pertama menginjakan kaki di Singapore dan  mereka mengunjungi ITE Collage East. Perjalanan menuju ke ITE Collage East menggunakan bus dan diperjalanan mereka merasa senang dan heran karena bisa melihat negara yang tertata rapi dan bersih disana sini terlihat tak ada sampah sedikitpun. Sampai di ITE Collage East para mahasiswa langsung disambut oleh Mr. Ray Mond Oong dengan sedikit candaan dan  langsung diajak mengelilingi ITE Collage East  
Di sekolah yang megah dengan disinari matahari yang hangat mereka mengikuti pembelajaran bersama siswa-siswa ITE Collage East. Mereka mengikuti pembelajaran Manajemen PE, Swimming Class, Outdoor Class, Hockey dan Strenght Conditioning exercise. Dan acara terakhir mahasiswa dikumpulkan dalam suatu forum yang isinya tentang penjelasan sistem pembelajaran di Singapore yang berkaitan dengan pendidikan jasmani baik untuk Primary School dan Secondary School.
Dengan raut wajah yang semangat  Mr. Ray Mond Oong menjelaskan materi dan mahasiswa sangat antusias dan senang dengan mengikuti rangkaian pembelajaran siang itu meskipun matahari sangat cerah dalam menyinari ITE Collage East. Setelah semua rangkaian pembelajaran selesai mereka mendapat cindera mata dari ITE Collage East berupa sertifikat mengikuti pembelajaran singkat di ITE Collage East.
Perjalanan sehabis mencari pencerahan ilmu di sekolah megah dang gagah, mereka pulang menuju penginapan tanpa dosen pendamping. Sampai dipenginapan malam yang cerah penuh bintang beberapa mahasiswa mencari makanan dan beberapa mahasiswa lainnya melihat secara langsung pertandingan AFC Cup di Stadion Jalan Besar Singapore yang saat itu mempertemukan wakil dari Indonesia yaitu Persija Jakarta melawan wakil dari Singapore yaitu Tampines Rovers FC.
Pagi yang dingi dengan suara burung jalak yang merdu menambah syahdu negeri singa. Mahasiswa berwisata ke Sentosa Island yang dihiasi keindahan laut Palawan yang  jernih dan deburan ombak yang memijat mata serta kapal-kapal yang bersandar. Setelah menikmati pemandangan di Sentosa Island. Mereka melanjutkan perjalanan menuju Universal Studio, tetapi mereka tak masuk ke dalam Universal Studio. “Harga tiket sangat mahal mencapai 70 dollar Singapore  jika di rupiahkan sekitar 700.000 rupiah”, kata Ketua KKL, Abas. Tak lupa mereka berfoto imut didepan globe Universal Studio.
Siang itu cuaca sangat cerah dengan sedikir semilir angin bertiup yang menemani perjalanan mahasiswa. Dan disore hari mereka menuju tempat Marina Bay yang mana disana terdapat patung Merlion icon Singapore, sore itu lebih indah karena ditemani sunset dan senja sore itu di pelataran patung Merlion.
Setelah senja berganti malam banyak gedung tinggi pencakar langit dengan penerangan lampu warna –warni menambah keindahan kota. Dengan riang gembira mereka cari sudut untuk berfoto. Pada jam 8 waktu setempat disekitar Marina Bay ada pertunjukan lampu warna-warni yang menyinari langit Singapore, dengan berganti warna dan sedikit iringan music merdu menambah nikmat malam itu. Beberapa turis disana mengabadikan momen ini melalui gadget dan kamera digital, karena momen ini sangat langkah dan hanya berjalan beberapa menit saja. Dengan gemerlap lampu dan ditambah dengan area Merlion ada suatu bendungan diman banya kapal yang melintas.dengan lampu warna-warni.
Pagi hari yang cerah perjalanan tak sampai disitu setelah badan segar kembali mereka berkunjung ke Marina Garden semacam kebun besar kota yang berisi bunga-bunga indah dang sangat rapi tersusun membuat semua mata terpesona. Pemandangan dari jembatan atas taman juga tidak kalah indahnya. Setelah mereka menghabiskan waktu untuk berfoto di Marina Garden.
Sesuatu yang takan pernah dilupakan dalam setiap perjalanan yaitu oleh-oleh yang berada di Bugis. Banyak orang yang bilang tempat ini semacam  pasar tradisionalnya orang Singapore, karena disana banyak menjual oleh-oleh khas Singapore mulai dari makanan, marchandise, pakaian, dll. Dari harganya juga tidak terlalu mahal pas sekali dengan  kantong yang mahasiswa. Banyak dari mahasiswa memborong tas yang harganya hanya 10 dollar dapat 3 dan tak lupa baju dengan icon merlion patung kepala singa berbadan ikan dengan harga yang terjangkau hanya 10 dallar dapat 3.
Dan tak lupa bagi para mahasiswa yang mempunyai orang tercinta dan pecinta coklat, disan ada coklat khas Singapore yang harganya tidak terlalu mahal dan bias dijadikan oleh-oleh untuk teman kos,orang terdekat dan pacar jika mempunyai. Setelah mereka puas membeli oleh-oleh, para mahasiswa mulai merasakan lapar dan di area Bugis itu ada kuliner baik khas daerah,kuliner Jepang, kuliner Cina dan kuliner Indonesia.
Salah satu mahasiswa parano dan takut makanan yang tercampur minyak babi. Menurut Bakhar, meskipun ada kuliner khas Indonesia tapi mereka takut jika makanan yang mereka makan bercampur dengan bahan yang mengandung babi yang mana haram bagi umat muslim.
Tibalah saatnya dimana mereka harus meninggalkan tempat yang mengukir banyak kenangan saatnya chek out dari hotel untuk kembali ke Semarang. Pagi itu mahasiswa sudah bersiap-siap untuk check out dari hotel dan mengecek apakah ada barang yang tertinggal dihotel. melanjutkan perjalanan dari Changi Airport ke Jakarta.
Mereka pulang dengan hati riang gembira tanpa beban ke Jakarta, mereka naik pesawat Scoot dengan tujuan penerbangan bandara Soekarno Hatta telah siap terbang dari Changi Airport menuju ke Soekarno Hatta tepat pukul 11.20 waktu Singapore.
Jakarta sangat panas dan macet tapi mahasiswa seperti biasanya foto selfi untuk oleh-oleh dan laporan kepada orang tua dan orang terdekat bahwa mereka sudah sampai di Jakarta. Untuk pulang menuju Semarang mereka harus menggunakan kereta yang sebelumnya sudah dipesan oleh panitia KKL Singapore. Untuk sampai di stasiun Pasar Senen mereka harus  naik damri karena MRT yang disediakan oleh bandara hanya mengangkut dari stasiun menuju bandara gratis dan dari bandara menuju stasiun harus berbayar 100.000 yang menurut mahasiswa sangatlah mahal. “Jadi untuk menuju stasiun pasar senen yang mana naik MRT itu mahal diganti dengan moda transportasi Damri yang harganya terjangkau hanya 40.000”, tegas Ketua KKL.
Saat diterminal burung besi menuju stasiun menempuh  waktu yang tidaklah cepat yaitu 2 jam ke stasiun pasar senin. Didalam bus beberapa dari Mereka tidur karena kecapean waktu perjalanan. Sampai di stasiun mereka merasa lapar karena perjalanan dari singapura hanya memakan dua lembar roti gandum. Mereka akhirnya berinisiatif membeli makanan ringan untuk mengganjal perut. Sembari menunggu salahsatu mahasiswa mencetak tiket kereta.
Dan pada akhirnya mereka mendapatkan tiket dan langsung masuk kereta. Sembari menunggu sampai disemarang mereka terlelap pulas hingga sampai di pemberhentian terakhir kota perantauan Semarang.
reporter: reza pr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar